JOGJA - Setelah lebih dari satu dekade rusak akibat bencana alam, Bendung Uvenja yang terletak di Dusun II, Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, kini kembali mengalirkan air untuk menghidupi lahan pertanian warga. Revitalisasi bendung ini dilakukan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya pemulihan ketahanan pangan masyarakat setempat.
Kerusakan bendung tersebut pertama kali terjadi pada tahun 2011 akibat banjir besar yang menghancurkan struktur irigasi. Sejak saat itu, petani di Desa Limboro kesulitan memperoleh air untuk mengairi sawah mereka seluas 28 hektar. Upaya warga membangun sistem penahan darurat belum mampu menggantikan fungsi bendung secara optimal.
“Selama bertahun-tahun masyarakat bertahan dengan sistem seadanya, tapi distribusi air tidak stabil. Banyak saluran tertutup lumpur, dan struktur jaringan irigasi rusak parah,” jelas Addien Sukmo Nugroho, mahasiswa UGM yang menjadi penanggung jawab program revitalisasi, saat diwawancarai Selasa (30/9/2025).
Kondisi kian memburuk pasca banjir bandang pada 7 Juli 2025 yang meluluhlantakkan seluruh struktur darurat. Bagian dasar bendung ikut rusak, menyebabkan aliran air benar-benar terhenti.
“Ketiadaan sistem irigasi permanen ini bukan hanya mematikan produktivitas pertanian, tapi juga mengancam ekonomi desa secara keseluruhan,” imbuh Addien.
Melalui program KKN Bulava Donggala 2025, tim mahasiswa UGM yang mengusung tema Blue Economy sebagai Katalisator Pemberdayaan Komunitas Berkelanjutan dan Pengembangan Pariwisata Bahari melalui Circular Economy Model, menjadikan revitalisasi Bendung Uvenja sebagai salah satu fokus utama.
Proyek pembangunan dilakukan dengan menggunakan material bronjong dan pasangan batu kali, yang dirancang sebagai solusi jangka pendek untuk kebutuhan mendesak. Struktur bendung setinggi 3 meter, lebar 3 meter, dan panjang 20 meter itu memiliki volume konstruksi mencapai 144 meter kubik.
“Bendung ini disusun dalam tiga segmen vertikal, menggunakan 144 blok bronjong yang disuplai oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kota Palu. Masing-masing bronjong diisi batu pecah dengan tambahan geotekstil agar lebih kedap air,” jelas Addien.
Baca juga: Hipertensi Mulai Ancam Generasi Muda, Pakar UGM Tekankan Pentingnya Pola Hidup Sehat Sejak Dini
Pembangunan dimulai pada 27 Juli 2025 dan rampung hanya dalam waktu lima hari, tepatnya pada 1 Agustus 2025. Selain melibatkan tenaga dari mahasiswa, proyek ini juga menyatukan partisipasi aktif warga desa, termasuk petani dan aparat desa setempat. Alat berat seperti ekskavator turut dikerahkan selama empat hari pertama untuk mempercepat pengerjaan pondasi.
“Pembangunan dilakukan secara responsif dan efisien. Ini memang belum permanen, tapi cukup untuk menjawab kebutuhan irigasi dalam lima tahun ke depan,” ujar Addien.
Sebagai tindak lanjut, tim KKN juga menyusun desain bendung permanen untuk diajukan ke Pemerintah Desa Limboro dan diteruskan ke Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Donggala. Desain tersebut mencakup mercu ogee selebar 20 meter, kolam olak, serta sistem kantong lumpur guna mengurangi sedimentasi.
Usulan tersebut diselaraskan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 terkait program nasional pembangunan infrastruktur desa. Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, keberadaan kembali Bendung Uvenja memberikan dampak yang nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Proyek ini tidak hanya membangun fisik bendung, tapi juga membangkitkan kembali semangat, harapan, dan ekonomi lokal. Warga kembali bisa menanam padi, dan itu sangat berarti bagi kami,” ujar Kifli.
Baca juga: Tingkatan Kemandirian Pangan dan Ekonomi Desa Ponorogo, UGM Dampingi Petani Ponorogo Olah Porang
Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kontribusi tim mahasiswa KKN UGM yang telah menghidupkan kembali fungsi vital irigasi desa.
"Kami sangat berterima kasih. Revitalisasi ini membawa perubahan besar, tidak hanya bagi sektor pertanian, tapi juga bagi keberlangsungan hidup warga kami,” pungkas Kifli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail