Rabu, 17 SEPTEMBER 2025 • 15:00 WIB

Fenomena Fomo Gen Z Minum Obat Cacing Usai Kasus di Sukabumi, Pakar UGM Ingatkan Jangan Asal Minum

Author

Pakar parasitologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes., Ph.D., (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Tren minum obat cacing secara mandiri belakangan ini ramai di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Fenomena ini muncul usai mencuatnya kasus kecacingan pada balita di Sukabumi, Jawa Barat, yang langsung memicu kekhawatiran publik. Sayangnya, langkah ini dinilai keliru jika dilakukan tanpa indikasi medis yang jelas.

Pakar parasitologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes., Ph.D., mengingatkan bahwa konsumsi obat cacing sembarangan justru bisa menimbulkan risiko kesehatan. Ia menyebut, penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga medis dapat mengganggu keseimbangan flora usus, menimbulkan resistensi, hingga menciptakan rasa aman yang semu.

"Orang mungkin merasa sudah terlindungi hanya dengan minum obat, padahal faktor kebersihan dan sanitasi jauh lebih penting,” ujar Elsa dalam podcast TropmedTalk, yang digelar Pusat Kedokteran Tropis UGM, Selasa (16/7/2025).

Elsa menjelaskan, kecacingan masih menjadi masalah serius di Indonesia, dengan prevalensi nasional mencapai 35 persen.

“Artinya dari 100 orang, ada sekitar 35 yang terinfeksi,” ungkapnya.

Menurut Elsa, tren minum obat cacing yang terjadi saat ini erat kaitannya dengan fenomena fear of missing out (FOMO), yang membuat masyarakat terburu-buru mengonsumsi obat hanya karena mengikuti tren atau takut tertinggal.

Baca juga: Kata Guru Besar UGM Soal Penelitian Orangutan Punya Gaya Hidup Sehat Dibanding Manusia

Alih-alih langsung mengonsumsi obat, Elsa menekankan pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta menjaga sanitasi lingkungan. Ia menambahkan bahwa infeksi cacing tidak hanya menyerang anak-anak, melainkan bisa mengenai siapa saja, termasuk orang dewasa yang tidak menjaga kebersihan.

"Hal sederhana seperti makan tanpa cuci tangan atau konsumsi makanan yang kurang higienis bisa jadi pintu masuk infeksi. Jadi perilaku hidup bersih dan sehat itu penting untuk semua usia,” katanya.

Selain itu, Elsa menjelaskan bahwa infeksi cacing yang parah bisa menyebabkan gangguan serius, seperti sakit perut, diare, bahkan kasus ekstrem seperti keluarnya cacing dari mulut pasien.

"Dalam beberapa kasus, kecacingan juga dapat menyebabkan komplikasi berat seperti sumbatan usus atau sepsis," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa infeksi cacing bisa berdampak pada pertumbuhan anak dan memperburuk kondisi gizi. “Cacing menyerap nutrisi dari tubuh inangnya. Kalau dibiarkan, ini bisa menyebabkan gizi buruk dan stunting, terutama pada anak-anak,” terangnya.

Kendati begitu, Elsa menekankan bahwa obat cacing tetap memiliki peran penting dalam Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) yang dijalankan pemerintah. Namun, program ini menyasar kelompok tertentu, terutama anak-anak usia sekolah, dan diberikan secara berkala sesuai wilayah.

Reinfeksi bisa terus terjadi kalau lingkungan dibiarkan tercemar. Karena itu, POPM penting untuk memutus rantai penularan di kelompok paling rentan,” jelasnya.

Menurutnya, upaya melawan kecacingan tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan butuh gerakan bersama.

"Kecacingan adalah masalah komunitas, bukan hanya individu. Upaya pencegahannya harus kolektif, dimulai dari rumah hingga lingkungan,” tegas Elsa.

Baca juga: DPRD DIY Dukung Sultan HB X Usulkan Transformasi BUKP Gunungkidul Jadi Perseroan Daerah

Elsa berharap edukasi soal bahaya kecacingan bisa terus digencarkan, agar masyarakat tak hanya mengandalkan obat, tetapi juga memperbaiki kebiasaan hidup sehari-hari.

"Langkah sederhana seperti mencuci tangan, memakai alas kaki, menggunakan jamban yang layak, dan mengelola sampah secara benar perlu digalakkan secara berkelanjutan," pungkas Elsa.

Berikut langkah pencegahan menurut Elsa, ia menghimbau masyarakat disarankan untuk :

  1. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air.
  2. Menggunakan alas kaki, terutama di area berisiko tinggi.
  3. Memastikan makanan dalam kondisi matang dan bersih.
  4. Menggunakan jamban yang layak.
  5. Mengelola limbah dan sampah dengan baik. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU