Selasa, 05 AGUSTUS 2025 • 15:20 WIB

Mahasiswa KKN UGM di Desa Karangwotan Pati Jawa Tengah Atasi Krisis Air Bersih Melalui Filtrasi Air Kapur

Author

Mahasiswa KKN UGM di Pati Jawa Tengah saat mengatasi krisis air bersih. (Istimewa)

JOGJA - Krisis air bersih yang telah lama membayangi warga Desa Karangwotan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, akhirnya mendapatkan titik terang. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi program filtrasi air kapur sebagai solusi atas permasalahan kualitas air tanah di wilayah tersebut.

Desa Karangwotan, yang berada di kawasan batuan kapur itu, selama ini menghadapi tantangan serius dalam penyediaan air bersih. Kondisi geologi wilayah yang didominasi batu gamping menyebabkan air tanah mengandung kapur tinggi, terasa getir, dan kerap meninggalkan kerak di alat rumah tangga. Kondisi ini membuat warga bergantung pada air galon untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk memasak dan konsumsi. Sayangnya, hal ini berdampak pada meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang.

Mahasiswa Teknik Geologi UGM yang tergabung dalam Tim KKN-PPM Jelajah Pucakwangi, Aldi, menjelaskan bahwa kondisi air di Karangwotan dipengaruhi oleh karakteristik batuan di bawah permukaan.

Desa ini tersusun atas batu gamping, sehingga ketika air tanah mengalir, kandungan kapur dari batuan tersebut ikut larut. Ini yang menyebabkan air terasa getir dan meninggalkan kerak,” jelas Aldi saat ditemui di lokasi KKN, Selasa (5/8/2025).

Baca juga: Gelar Temu Orang Tua Mahasiswa Baru Pada Pionir Hari Ini, UGM Bagikan Laptop Hingga Berikan Subsidi UKT Gratis

Aldi menambahkan, posisi elevasi air sungai yang lebih tinggi dari muka air tanah juga memungkinkan air sungai ikut meresap dan memperburuk kualitas air bawah tanah. Selama tujuh hari observasi, tim KKN mendapati tingginya kandungan TDS (Total Dissolved Solid) dalam air tanah yang dikonsumsi warga. Pengujian menggunakan water test kit menunjukkan bahwa air tersebut mengandung partikel terlarut dalam jumlah signifikan, termasuk larutan kapur.

Menjawab persoalan tersebut, tim KKN merancang dan memasang alat filtrasi sederhana di beberapa titik strategis desa. Alat ini dirancang untuk menyaring kandungan kapur dan partikel padat terlarut lainnya, menjadikan air lebih layak untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, bahkan memasak.

"Alatnya memang sederhana, tapi cukup efektif untuk menurunkan kadar kapur. Tujuannya agar masyarakat tidak perlu lagi terlalu bergantung pada air galon. Agar hasil maksimal, program ini juga melibatkan masyarakat utamanya dalam proses instalasi dan pemeliharaan alat filtrasi. Pendekatan partisipatif ini bertujuan agar warga dapat melanjutkan dan mengembangkan program secara mandiri di masa depan," jelas Aldi.

Baca juga: Rektor UGM Sambut 10.629 Mahasiswa Baru Pada Kegiatan Pionir Hari Ini

Sementara itu, Dosen pembimbing lapangan KKN-PPM UGM, Roza Azizah Primatika, menyatakan bahwa pendekatan edukatif ini menjadi kunci dalam pemberdayaan masyarakat.

Kami tidak ingin program ini hanya berlangsung selama masa KKN. Maka dari itu, penting bagi warga untuk memahami cara kerja dan cara perawatan alat, agar manfaatnya bisa terus dirasakan dalam jangka panjang,” kata Dr. Roza.

Program ini pun disambut baik oleh warga. Selain memberikan solusi atas persoalan air, program ini juga dianggap mampu mendorong kemandirian dan mengurangi beban ekonomi masyarakat.

Sekarang kami bisa pakai air sumur untuk kebutuhan harian, tidak harus beli galon terus. Lumayan bisa menghemat,” ujar salah satu warga Karangwotan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU