Jumat, 18 JULI 2025 • 15:00 WIB

Update Terbaru SRMA 19 DIY Tambah Dua Siswa Difabel, Kepala Sekolah Pastikan Pendampingan Inklusif Terjamin

Author

Potrait Sekolah Rakyat (SR) 19 di wilayaj Sonosewu, Bantul, DIY. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 DIY yang berada di wilayah Sonosewu, Kabupaten Bantul, terus menguatkan peran pendampingan holistik bagi para siswa. Setelah sebelumnya menerima sekitar 200 siswa, kini lembaga tersebut menambah dua anak penyandang disabilitas sebagai bagian dari komitmen pendidikan inklusif.

Hal ini diungkapkan Agus saat ditemui usai dikunjungi Komisi D DPRD DIY dilokasi, pada Jumat (18/7/2025).

"Alhamdulillah mereka masuk sini. Tentunya, kami akan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan pendidikan inklusi nanti," ujarnya.

Pasalnya, kata Agus, bahwa proses adaptasi siswa difabel tersebut akan dilakukan secara bertahap, mengikuti ritme masing-masing anak.

"Tidak serta-merta harus ikut semua. Lambat laut, dengan keterbatasan mereka dan kami, proses itu akan berjalan. Kami juga akan menggandeng guru-guru yang berkompeten," katanya.

Ia menyebut jenis disabilitas yang dimiliki para siswa baru lebih pada tantangan komunikasi.

"Kadang miskomunikasi, begitu. Rata-rata yang seperti itu," katanya.

Dalam menjalankan peran pendampingan para siswanya, Agus mengungkapkan pihaknya aktif bekerja sama dengan wali asrama dan wali asuh. Pendekatan yang digunakan pun bersifat humanis.

"Kami berkolaborasi dengan para wali asrama, wali asuh untuk membina, mendampingi kesusahan mereka dengan cara yang humanis tentunya begitu," ujarnya.

Selain itu, sebelumnya juga bahws sejumlah siswa sempat mengalami gangguan kesehatan ringan saat awal masa adaptasi, seperti sakit kepala atau demam. Bahkan, ada siswa yang sempat dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Baca juga: Kunjungi Sekolah Rakyat 19 DIY, Komisi D DPRD DIY Dukung Penuh: Akan Jalin Kerjasama Dengan Perguruan Tinggi dan Universitas

"Itu karena sakit dari sebelumnya mereka sudah sakit. Didiagnosa ternyata hanya panas saja. Kemarin saya juga ikut mengantar mereka yang sakit itu. Dan waktu itu biar cepat sembuh, mereka harus diinfus sampai satu jam. Saya tunggu sampai pukul 11 malam. Alhamdulillah sekarang sudah sehat, semua sehat," jelasnya.

Kendati demikian, lanjut Agus, juga bekerja sama dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Kasihan untuk enyediakan tenaga medis secara berkala. Pihak Puskesmas juga telah memberikan sosialisasi terkait penurunan penyakit menular pada anak.

"Sudah ada kolaborasi dengan Sentra, difasilitasi tenaga medis seminggu sekali," tuturnya.

Terkait kualitas air, Agus memastikan bahwa semuanya aman digunakan.

"Alhamdulillah, saya juga mandi di sini. Minum juga pakai air sini. Insya Allah terpenuhi semua, sehat," ujarnya.

Baca juga: Upaya Kurangi Kenakalan Remaja dan Brantas Bibit Koruptor, DPRD DIY Usulan Tambahan Eskul Bela Diri Di Sekolah Rakyat

Sementara menanggapi perbedaan usia lantaran berpotensi terjadinya kekerasan antar siswa, Agus akan memastikan bahwa pihak sekolah mengantisipasi dengan pendekatan nilai dan perlindungan anak.

"Kami mengikuti arahan Pak Mensos berkaitan dengan intoleransi, bullying, dan kekerasan seksual. Kami tidak hanya meminimalkan, Insya Allah meniadakan itu semua," tegasnya.

Ia pun kembali menekankan bahwa pendampingan terus dilakukan secara aktif, baik dari segi pendidikan maupun sosial emosional.

"Mohon doanya kepada semuanya berkaitan dengan kesusahan mereka. Saya akan mendampingi mereka," pungkasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU