Pemantauan hewan kurban di Kota Yogyakarta oleh jajaran Pemkot, pada Jumat (8/5/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak langsung terhadap kenaikan harga sapi impor asal Australia. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya harga sapi di Australia sejak akhir 2025 akibat persaingan ekspor global dan ketidakpastian geopolitik.
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Panjono, menilai situasi tersebut menjadi alarm bagi ketahanan pangan hewani Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor sapi dan daging.
Menurut Panjono, kenaikan harga sapi impor memang memberi keuntungan bagi peternak lokal karena harga sapi domestik ikut terdorong naik.
"Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik," ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Ia pun mengingatkan ketahanan pangan nasional untuk komoditas daging sapi masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal, mulai dari fluktuasi kurs rupiah, kondisi geopolitik, hingga dinamika pasar global.
Menurutnya, apabila harga sapi impor terus meningkat, volume impor berpotensi turun. Dampaknya, pemotongan sapi lokal akan meningkat demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu penurunan populasi sapi nasional.
"Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan," jelasnya.
Panjono juga menyoroti target populasi sapi nasional yang ditetapkan pemerintah masih menghadapi tantangan besar. Kementerian Pertanian menargetkan populasi sapi mencapai 19,9 juta ekor pada 2026, sementara populasi pada 2025 baru sekitar 13,5 juta ekor.
Menurutnya, selisih lebih dari enam juta ekor menunjukkan perlunya langkah luar biasa untuk meningkatkan populasi ternak nasional, mulai dari percepatan program pembiakan, peningkatan produktivitas indukan, hingga pengendalian pemotongan sapi produktif.
"Artinya masih ada kekurangan lebih dari enam juta ekor. Kalau pemotongan meningkat, target itu tentu akan semakin sulit dicapai," katanya.
Selain itu, fluktuasi kurs rupiah yang tajam juga disebut menyulitkan pelaku usaha sapi potong dalam menghitung biaya pembelian, harga jual, hingga proyeksi keuntungan usaha.
Lanjut Panjono menilai, pelaku usaha sebenarnya lebih membutuhkan kestabilan nilai tukar dibanding sekadar penguatan rupiah terhadap dolar AS. Stabilitas kurs dinilai penting agar pengusaha dapat menyusun perencanaan bisnis dengan lebih akurat dan meminimalkan risiko kerugian akibat perubahan harga mendadak.
"Yang utama bagi pelaku usaha sapi potong sebenarnya bukan hanya dolar turun, tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar harus stabil. Kalau stabil, mereka bisa menghitung biaya dan harga jual dengan lebih pasti," tuturnya.
Ia menegaskan persoalan tingginya harga sapi impor tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan. Pemerintah dinilai perlu menerapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang secara bertahap agar pasokan daging tetap terjaga sekaligus memperkuat populasi sapi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail