JOGJA - Dosen Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Fajar Adi Kusumo, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sistem Dinamik, Selasa (1/7/2025), di Balai Senat Kampus UGM. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Fajar menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Sistem Dinamik dan Peranannya pada Prognosis Kanker”.
Dalam pemaparannya tersebut, Prof. Fajar menekankan pentingnya pendekatan matematika dalam dunia medis, khususnya dalam memahami dan memprediksi perkembangan penyakit kanker. Ia menyebut, sistem dinamik merupakan formalisasi matematika dari proses deterministik yang sangat relevan untuk digunakan dalam bidang kesehatan.
“Sistem Dinamik ini dapat diaplikasikan di bidang kesehatan, contohnya pada prognosis kanker. Sistem ini dapat menggambarkan suatu proses deterministik dan dimanfaatkan untuk melakukan prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit atau kondisi medis seseorang,” jelasnya.
Baca juga: Kisah Sitti, Mahasiswa UGM Domisili Papua Raih Beasiswa Freeport Indonesia
Ia mengungkapkan telah melakukan penelitian di bidang sistem dinamik sejak 2001, dan mulai menerapkannya dalam pemodelan prognosis kanker sejak 2010. Menurutnya, pendekatan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai dinamika penyakit, serta membantu dalam menentukan arah penanganan dan pengobatan.
Adapun salah satu terobosan yang tengah dikembangkan adalah penerapan terapi kanker menggunakan virus oncolytic atau virotherapy. Terapi ini bertujuan meningkatkan apoptosis (kematian sel) pada sel kanker yang terinfeksi virus.
“Dengan menggunakan model tersebut, beberapa skenario hasil virotherapy dengan menggunakan virus oncolytic dapat dipelajari dari perspektif matematika melalui eksistensi dan kestabilan dari solusi-solusi dari model,” urainya.
Selain itu, Fajar juga menyoroti jenis kanker yang cukup banyak ditemui di Indonesia, yakni kanker nasofaring yang disebabkan oleh Epstein-Barr Virus (EBV). Menurutnya, ada dua pendekatan pemodelan matematika yang dapat digunakan untuk memahami karakteristik kanker ini yakni interaksi antar sel di tingkat jaringan dan interaksi protein serta biomarker yang terlibat dalam regulasi perbaikan sel.
Dari pendekatan kedua ini, ditemukan bahwa dua pasien dengan kondisi klinis serupa bisa menunjukkan pola penyebaran penyakit dan respons terhadap pengobatan yang berbeda.
“Temuan ini juga memberikan rekomendasi dari perspektif matematika bahwa penanganan pasien kanker sebaiknya dilakukan secara personal,” ujarnya.
Dalam penutupan paparannya, Ia berharap kajian sistem dinamik tidak hanya memberikan kontribusi dalam pengobatan, tetapi juga menjadi alat bantu dalam deteksi dini serta tindakan preventif terhadap kanker.
“Kajian pemodelan matematika dalam prognosis kanker ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi dalam hal penanganan dan pengobatan kanker, namun juga dalam deteksi dini dan berbagai tindakan preventif lainnya untuk mencegah penyakit kanker di masa depan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers