Senin, 25 MEI 2026 • 15:40 WIB

Usai Nonton Film "Pesta Babi" di UGM, Megawati Minta RI Kembali Jadi Bangsa Maritim dan Hidupkan Haluan Negara Soekarno :"Mereka Minta Dihargai"

Author

Megawati saat hadiri forum Dialog Kebijakan Nasional bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia di Balai Senat UGM. (Istimewa)

JOGJA - Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global dan perebutan sumber daya laut, Bangsa Indonesia dinilai perlu kembali menegaskan identitasnya sebagai bangsa maritim. Penguatan penelitian, inovasi, serta pengelolaan kekayaan hayati laut menjadi kunci utama untuk memperkuat kedaulatan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Posisi strategis Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik dinilai memberikan peluang besar sekaligus tantangan yang nyata dalam menjaga habitat dan pemanfaatan sumber daya laut secara mandiri.

Hal ini disampaikan oleh Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Megawati Soekarnoputri, menilai Bangsa Indonesia selama ini belum sepenuhnya memanfaatkan potensi laut sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan hayati laut yang sangat melimpah serta posisinya yang strategis di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik.

"Indonesia itu bukan sekedar negara daratan. Kita adalah bangsa maritim dengan strategi di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik," tegas Megawati dalam forum Dialog Kebijakan Nasional bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia di Balai Senat UGM, belum lama ini.

Megawati kembali mengingatkan bahwa konsep "Tanah Air" seharusnya menjadi dasar utama cara memandang bangsa Indonesia dalam melihat laut, bukan sebagai pemisah melainkan sebagai pemersatu wilayah dan sumber peradaban. Ia juga menyampaikan kembali gagasan geopolitik Presiden pertama RI, Soekarno, yang sejak dulu menempatkan Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia.

Tak lupa, Megawati menekankan pentingnya Pancasila sebagai landasan utama dalam pembangunan nasional. Menurutnya, peningkatan riset, inovasi, dan pelestarian maritim harus tetap berpijak pada identitas bangsa serta semangat berdikari yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.

"Jangan lupakan sejarah bangsa sendiri. Pancasila itu nilai universal yang dihormati dunia internasional," tegasnya lagi.

Ia menambahkan bahwa penguatan sektor kelautan tidak cukup hanya dilakukan melalui eksploitasi sumber daya secara terus menerus, tetapi harus ditopang kuat oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta penelitian nasional.

Oleh karena itu, Megawati meminta BRIN dan seluruh perguruan tinggi untuk mengintegrasikan penelitian dengan kebutuhan industri serta kebijakan publik agar hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Selain masalah penelitian, Megawati juga mengingatkan pentingnya perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap kekayaan hayati Indonesia agar tidak diklaim secara sepihak oleh negara lain.

"Tolong sosialisasikan soal paten itu, karena begitu sudah dipatenkan, itu menjadi hukum internasional," ucap Ketua PDIP tersebut.

Baca juga: UGM Gandeng Kemenpora, Siapkan Kampus Jadi Pusat Sport Science Nasional

Dalam kesempatan tersebut, Megawati ikut memaparkan mengenai fokus strategi yang harus dimiliki oleh perguruan tinggi di Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia melontarkan gagasan mengenai pembentukan pusat intelektual yang terspesialisasi.

"Saya membayangkan ada kota intelektual . UGM misalnya untuk Pancasila dan demokrasi, IPB untuk kedaulatan pangan, UI untuk kedokteran dan sistem keuangan, ITB untuk teknologi industri dan militer," tuturnya.

Menyoroti konteks pembangunan nasional, Megawati menekankan pentingnya Indonesia memiliki arah jangka panjang yang berkelanjutan. Ia menilai, sepatutnya Indonesia membutuhkan haluan negara yang jelas agar arah pembangunan tidak selalu berubah-ubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Konsep pembangunan semesta direncanakan dinilai perlunya dihidupkan kembali demi menjaga kesinambungan visi bangsa.

"Kalau presidennya berganti, jangan sampai arah pembangunannya ikut berubah semua. Kita harus punya pola pembangunan jangka panjang untuk masa depan bangsa," katanya.

Megawati juga menyoroti berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini. Ia melontarkan kritik tajam terhadap pendekatan ekstraktif dalam pengelolaan sumber daya alam yang dinilai telah mendorong kerusakan lingkungan, memicu alih fungsi lahan pertanian, hingga mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Ia menekankan pentingnya memberikan penghormatan terhadap hukum adat dan hak masyarakat lokal.

Bahkan, Megawati mengaku tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan sebuah film dokumenter yang menggambarkan realita kerusakan hutan di daerah.

"Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya. Sudah berapa banyak hutan yang hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?," ucap Megawati.

Baca juga: Belajar dari Ngayogjazz Hingga KKN UGM, Bedah Kunci Sukses City Branding untuk Pendapatan Daerah

Kendati demikian, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memperkuat kepercayaan pada kekuatan sendiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dalam mengelola seluruh sumber daya alam nasional. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain, baik dalam pengelolaan kekayaan alam maupun dalam menentukan arah masa depan bangsa.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang percaya kepada kekuatan bangsanya sendiri, laut harus kembali menjadi jalan kemajuan peradaban Indonesia," pungkas Megawati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU