World Economic Forum Sebut Coding Salah Satu Skill Masa Depan, Kata Mendikdakmen Soal Update Pelatihan Guru Mata Pelajaran Coding untuk SD
JOGJA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pelatihan artificial intelligence (AI) dan coding bagi para guru, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), SMP, hingga SMA dan SMK.
Hal ini disampaikan Abdul Mu'ti usai menghadiri acara Forum Education yang diselenggarakan di Ballroom INKA UNY, pada Sabtu (24/1/2026).
"Kami secara bertahap juga melatih AI dan coding bagi para guru mulai dari guru di sekolah dasar, SMP, dan juga SMA dan SMK," ujar Abdul Mu’ti keoada wartawan usai acara.
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak untuk semua guru, melainkan ditujukan bagi guru yang akan mengajar mata pelajaran tersebut.
"Tapi ini bukan guru yang kita angkat baru, justru guru yang sudah ada kemudian kita berikan tambahan pelatihan AI dan coding," katanya.
Menurutnya, beberapa guru yang akan mengikuti pelatihan sudah mengajar mata pelajaran teknologi informasi, sementara sebagian lainnya sebelumnya tidak mengajar TI.
"Nanti bisa keikut sertaannya itu ketika dia nanti mengajar AI atau coding bisa juga dihitung dalam sertifikasi guru," jelas Abdul Mu'ti.
Selain AI dan coding, pemerintah juga menyiapkan pelatihan bahasa Inggris bagi guru kelas SD, seiring rencana mulai mengajarkan bahasa Inggris sejak kelas 3 SD pada 2027.
"Kami juga tidak merekrut guru bahasa Inggris tapi guru yang sudah ada itu kita berikan pelatihan bahasa Inggris. Sama dengan guru kelas yang juga mengajar bahasa Indonesia, dia juga nanti punya kemampuan-kemampuan begitu," imbuhnya.
Sebelumnya, dihadapan undangan forum tersebut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa persiapan keterampilan ini penting untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja di masa depan. Menurut World Economic Forum, skill yang paling dibutuhkan pada 2025-2030 adalah AI, analytical thinking, coding, dan critical thinking.
"Kalau kita baca World Economic Forum, skill yang paling diperlukan di tahun 2025-2030, nomor satu kan AI, kemudian analytical thinking, yang lain-lainnya ya critical thinking, dan lain-lain masih bertahan. Tapi urutan itu tidak lagi di atas. Yang di atas itu sudah analytical thinking, AI, dan coding," ungkapnya.
Abdul Mu’ti juga menjelaskan bahwa keterampilan masa depan bukan hanya hard skill, tetapi juga soft skill yang penting untuk adaptasi, ketahanan, dan kualitas hidup yang baik.
"Yang disebut World Economic Forum dengan ten top skill itu semuanya adalah soft skill, bukan hard skill. Sehingga penyiapan soft skill dalam pendidikan itu yang paling memungkinkan para mahasiswa, para murid kita memiliki kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan untuk bertahan, sustainability, dan kemampuan untuk bisa memperoleh penghidupan yang layak dan kehidupan yang bahagia," terangnya.
Oleh karena itu, ia kembali menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi bagian dari layanan pendidikan yang bermutu untuk mencetak generasi berkualitas.
"Di sinilah kemudian pendidikan itu harus kita kemas, sehingga AI ini sebagai bagian dari produk kecanggihan teknologi manusia, kehebatan akal manusia itu bisa menjadi bagian tak terpisahkan dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu untuk melayarkan generasi yang bermutu," pungkas Abdul Mu'ti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Doorstop