Rabu, 13 AGUSTUS 2025 • 17:48 WIB

Dugaan Menu Rawon MBG Jadi Penyebab Keracunan 90 Siswa dari Tiga SMP Mlati Sleman, 15 Siswa Dirujuk Rumah Sakit

Author

Kondisi Para siswa SMP di Puskesmas Mlati 2 diduga keracunan MBG, pada Rabu (13/8/2025). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan di sekolah. Puluhan siswa dari beberapa sekolah di Kapanewon Mlati, Sleman, dilarikan ke Puskesmas akibat mengalami gejala mual, diare, dan pusing.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Dedi Aprianto, membenarkan adanya dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa.

"Jadi ada beberapa siswa yang datang ke Puskesmas Mlati 2 yang memang diduga keracunan makanan. Kenapa saya mengatakan patut diduga? Karena memang kan masih dalam proses pemeriksaan. Sebagian ada yang mual-mual, ada yang diare, pusing juga," ujar Dedi saat ditemui di Puskesmas Mlati 2, Rabu (13/8/2025).

Dedi menyebut total ada sekitar 90 siswa dari tiga sekolah yakni SMP Muhammadiyah 3 dan SMP Pamungkas yang ditangani di Puskesmas Mlati 2. Dari jumlah tersebut, 15 siswa dirujuk ke RSUD Sleman untuk observasi lebih lanjut.

"Yang dirujuk itu triasenya kuning, artinya perlu penanganan, observasi. Tapi insya Allah, tadi kami cross-check ke RSUD Sleman, kondisinya baik-baik semua," katanya.

Sementara itu, 58 siswa lainnya yang berasal dari SMP Muhammadiyah 1 mendapatkan perawatan di Puskesmas Mlati 1. Tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit dari lokasi ini.

"Yang di Puskesmas Mlati 2 dari sekolahnya itu SMP Muhammadiyah 3 sama SMP Pamungkas, lalu satu lagi di SMP Muhammadiyah 1 itu di Puskesmas Mlati 1. Itu terakhir datanya tadi siang sekitar 58 siswa," ujar Dedi.

Baca juga: Beredar Vidio di Kabupaten Sorong Ada Belatung Dilauk MBG

Dugaan sementara mengarah pada konsumsi makanan rawon yang didistribusikan oleh katering MBG pada hari sebelumnya. Namun, pihak Dinkes belum memastikan secara resmi makanan mana yang menjadi sumber masalah.

"Kalau dari ceritanya itu ada yang mengonsumsinya makanan yang kemarin, terus baru gejalanya pagi tadi. Tadi juga ada yang makan pagi ini dan merasa mual juga. Katanya sih rawon, lauknya daging sapi dan ada togenya," katanya.

Pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa telah dilakukan oleh tim lintas sektor. Sampel makanan disebut telah diambil oleh pihak Inafis dan petugas dari Dinas Kesehatan.

"Tadi sebagian juga sudah diambil sama Inafis. Tapi pemeriksaannya kan perlu waktu," imbuhnya.

Lanjut Dedi, Dinkes Sleman akan terus memantau perkembangan kasus ini. Jika tidak ada tambahan kasus dalam 2x24 jam, kasus ini akan dianggap aman.

"Data ini masih bergulir, kalau ada perkembangan atau apa, nanti akan dikabari lagi. Tapi insya Allah, kalau sampai besok enggak ada data tambahan, insya Allah aman. Biasanya kalau dicurigai keracunan makanan, keracunan makanan itu satunya paling lama 2x24 jam lah," pungkas Dedi.

Baca juga: Proses Disporsal Mortir Berbobot 400 Kilogram di Sleman Terekam Seismik Gunung Merapi dan 13 Rumah Terdampak

Sementara itu, Kepala Puskesmas Mlati 2, Evita Setiani, menegaskan bahwa tidak ada siswa yang mengalami kondisi kritis. Mereka yang dirujuk ke rumah sakit hanya memerlukan observasi lebih lanjut karena mengalami dehidrasi ringan.

"Kalau yang dirujuk memang perlu penanganan lebih lanjut, tapi kondisinya semuanya sadar, tidak ada yang kritis," ujar Evita.

Sampai saat ini, pihak kepolisian dan instansi terkait kini masih mendalami insiden ini. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diharapkan dapat segera diketahui untuk memastikan penyebab pasti kejadian. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU