Perbaikan drainase Kota Jogja. (Istimewa)
JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus memperkuat sistem drainase sebagai langkah mengurangi genangan air dan meningkatkan ketahanan perkotaan terhadap hujan deras. Tahun 2026, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) menyiapkan berbagai strategi, mulai dari pembangunan baru, pemeliharaan rutin, hingga penanganan insidentil.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi, mengatakan kondisi drainase di Kota Yogyakarta secara umum menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil pekerjaan sepanjang 2025 dinilai cukup signifikan dalam mengurangi genangan, meski masih ada beberapa titik yang belum sepenuhnya tertangani.
"Secara umum sudah mengurangi genangan. Tapi memang masih ada beberapa lokasi yang ketika hujan deras masih tergenang, seperti di kawasan Langensari dekat bengkel kereta, serta di Kampung Klitren yang rencananya akan ditangani oleh BBWS," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Diketahui, beberapa kawasan yang sebelumnya rawan genangan kini mulai terkendali, salah satunya XT Square. Ia menjelaskan, genangan di wilayah itu tidak hanya dipicu kapasitas saluran yang terbatas, tetapi juga oleh sampah yang menyumbat inlet drainase. Setelah dilakukan perbaikan dan pembersihan, genangan di XT Square kini hanya bersifat kecil dan temporer.
Baca juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Tahun 2026 Pemkot Jogja Perbaiki Titik Bantaran Sungai
Menurutnya, DPUPKP Kota Yogyakarta menerapkan konsep drainase lestari, yaitu menahan air hujan sementara melalui sistem resapan yang terintegrasi dengan saluran, bukan langsung dibuang ke sungai. Tujuannya, mengurangi beban sungai sekaligus memperlambat aliran air permukaan.
"Kita coba meresapkan air melalui sumur resapan yang terintegrasi dengan saluran. Bukan semata-mata untuk peresapan, tapi sebagai 'rem' agar air tidak langsung terbuang ke sungai. Selain itu, titik-titik resapan juga berfungsi menangkap sedimen sehingga pemeliharaannya lebih mudah," papar Kurniadi.
Pemantauan dan pembersihan drainase dilakukan secara rutin, terutama saat musim hujan. Laporan masyarakat melalui kanal pengaduan, seperti JSS, juga dimanfaatkan untuk mendeteksi genangan yang tidak surut dalam waktu lama. Jika genangan tidak surut dalam dua jam atau masih terjadi hingga keesokan harinya, petugas segera melakukan pengecekan lapangan.
Selain itu, Kurniadi menyebut pihaknya juga menata saluran irigasi yang sudah tidak lagi berfungsi untuk sawah.
"Karena sawah di kota semakin berkurang, beberapa saluran irigasi yang sudah tidak melayani sawah kita konversi menjadi drainase. Bahkan di saluran irigasi yang tidak aktif, juga ditambahkan sumur resapan untuk membantu mengurangi genangan," imbuhnya.
Untuk tahun 2026, kata dia, DPUPKP mengalokasikan anggaran sekitar Rp 14,8 miliar bagi kegiatan drainase, meliputi pembangunan baru, pemeliharaan, dan penanganan insidentil.
Salah satu proyek pembangunan baru dilakukan di kawasan Kotagede, yakni Jalan Kemasan - Nyi Pembayun, senilai sekitar Rp 3 miliar. Proyek ini menghubungkan saluran baru Bina Marga dengan saluran lama DPUPKP, sehingga aliran air menjadi lebih lancar.
"Pembangunan lanjutan juga dilakukan di Rejowinangun dengan anggaran sekitar Rp 3 miliar, untuk memperbesar saluran hingga ke cabang-cabang di selatan dan timur, menghilangkan titik genangan yang kerap muncul saat hujan deras," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis