Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 24 JANUARI 2026 • 16:40 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: AI Tetap Jalan Masuk Kampus Tapi Guru Tetap Raja Pendidikan

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: AI Tetap Jalan Masuk Kampus Tapi Guru Tetap Raja PendidikanMendikdasmen Abdul Mu’ti, usai hadiri acara di UNY, Sabtu (24/1/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan tidak akan menggantikan peran manusia, khususnya guru dan tenaga pendidik. Menurutnya, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

"AI memang semakin populer, tapi manusia tetap menjadi ‘raja’ pendidikan. AI hanyalah alat yang membantu, bukan pengganti guru atau tenaga pendidik lainnya," ujar Abdul Mu'ti saat menghadiri acara di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1/2026).

Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa AI memiliki dua sisi, yakni peluang dan tantangan. Berdasarkan kajian akademik dan laporan internasional, termasuk dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), AI berpotensi menggantikan sejumlah jenis pekerjaan. Namun, bagi mereka yang mampu menguasainya, teknologi ini justru memperkuat kapasitas manusia.

"Yang terdampak adalah yang tidak menguasai. Namun, yang menguasai, mereka menjadi sangat dikdaya. AI bisa memproses informasi luar biasa cepat, tapi tetap kontrolnya ada pada manusia," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dan etika di tengah pesatnya perkembangan AI. Menurut Abdul Mu’ti, meskipun AI mampu menyajikan data dan memberikan saran, teknologi tersebut tidak memiliki kedalaman berpikir kritis maupun moralitas seperti manusia.

Ia mencontohkan penggunaan Chat GPT yang kini semakin luas.

"Chat GPT bisa menyusun pidato dengan cepat dan rapi, namun tidak mengetahui konteks sosial, data spesifik, atau nuansa budaya yang hanya bisa dipahami oleh manusia," tuturnya.

Baca juga: Sidang Perdana Arie Mahasiswa UNY Ricuh Agustus Lalu Digelar, Kuasa Hukum Ajukan Eksepsi Minta Dakwaan Dibatalkan

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa mata pelajaran AI dan coding telah diperkenalkan sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, mulai dari kelas 5 sekolah dasar (SD).

"Kami mulai dengan pilihan, karena guru harus dilatih terlebih dahulu. Setelah mereka siap, baru mata pelajaran ini bisa menjadi wajib," imbuhnya.

Lebih lanjut, Mendikdasmen menuturkan bahwa pendekatan pendidikan yang saat ini dikembangkan adalah pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek psikologi, neuroscience, dan teknologi dalam proses belajar-mengajar.

"Deep learning dalam pendidikan tidak hanya menekankan kognisi, tetapi juga nilai, karakter, dan kemampuan metakognitif siswa," katanya.

Selain itu, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya penguatan kompetensi digital (digital competence) dan kesantunan digital (digital civility), terutama dalam penggunaan AI secara etis. Ia mengingatkan masyarakat agar bijak dalam memanfaatkan teknologi, tidak menyebarkan informasi yang tidak akurat, serta tetap menjaga etika dan sopan santun di ruang digital.

"AI dapat mengatasi kesenjangan pendidikan, misalnya dalam pendidikan jarak jauh di daerah terpencil. Namun, etika, budaya, dan karakter tetap harus melekat dalam setiap pembelajaran," terangnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: AI Tetap Jalan Masuk Kampus Tapi Guru Tetap Raja Pendidikan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!