Jumpa pers RS Grhasia, Kabupaten Sleman, Senin (5/1/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyampaikan klarifikasi resmi terkait dugaan keracunan yang dialami sejumlah mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta usai mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di lingkungan rumah sakit tersebut pada akhir Desember 2025.
Direktur RSJ Grhasia DIY, dr. Akhmad Akhadi S, mengatakan hingga saat ini penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses penelusuran dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari instansi berwenang.
"Penyebab kejadian masih dalam proses penelusuran dan kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari instansi yang berwenang," ujar Akhmad dalam konferensi pers di RS Grhasia, Sleman, Senin (5/1/2026).
Akhmad menjelaskan, kegiatan ECE merupakan bagian dari kerja sama pendidikan antara RSJ Grhasia dengan institusi pendidikan tinggi kesehatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin (29/12/2025) dan difasilitasi oleh Instalasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) RSJ Grhasia.
Dalam kegiatan itu, pihak rumah sakit menyediakan konsumsi berupa snack yang disuplai oleh penyedia jasa katering eksternal. Menurut Akhmad, penyediaan konsumsi tersebut merupakan praktik rutin sebagai pendukung kegiatan pendidikan dan telah melalui mekanisme pengadaan yang berlaku di rumah sakit.
"Pada malam hari hingga dini hari setelah kegiatan, kami menerima laporan adanya keluhan kesehatan dari sebagian peserta dengan gejala mual, muntah, diare, demam, dan pusing, dengan waktu kemunculan yang bervariasi,” jelasnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, RSJ Grhasia langsung melakukan respons cepat sesuai standar prosedur operasional pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Penanganan dilakukan melalui pemberian layanan medis rawat jalan maupun rawat inap sesuai indikasi medis masing-masing mahasiswa.
"Selain itu, kami juga melakukan penjemputan dan pemeriksaan terhadap mahasiswa yang saat itu berada di luar area rumah sakit,” katanya.
RSJ Grhasia juga melakukan koordinasi internal dengan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) serta tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Sementara koordinasi eksternal dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan Balai Laboratorium Kesehatan untuk pengiriman dan pemeriksaan sampel makanan, muntahan, serta feses mahasiswa.
"Sisa makanan yang belum dikonsumsi juga kami amankan untuk kepentingan pemeriksaan lanjutan,” ungkap Akhmad.
Ia menambahkan, pihak rumah sakit menjalin komunikasi intensif dengan institusi pendidikan asal mahasiswa guna memantau kondisi kesehatan sekaligus memastikan kelanjutan proses pendidikan para peserta ECE.
"Dari sisi pembiayaan, RS Jiwa Grhasia mengupayakan kelancaran pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemanfaatan skema jaminan kesehatan," ucapnya.
Berdasarkan pemantauan terakhir, Akhmad menyebutkan kondisi seluruh mahasiswa yang terdampak menunjukkan perbaikan secara klinis. Sebagian mahasiswa telah diperbolehkan menjalani rawat jalan, sementara lainnya masih dalam pemantauan medis sesuai kebutuhan.
"Hingga saat ini tidak terdapat laporan kondisi kegawatan lanjutan,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung