JOGJA - Menindaklanjuti dugaan keracunan massal yang dialami siswa di tiga SMP Kapanewon Mlati, Sleman, salah satu sekolah terdampak, SMP Muhammadiyah 3 Mlati. Karenanya, sekolah ini pada Kamis pagi tadi (14/8) telah menggelar pertemuan dengan orang tua siswa serta mengundang sejumlah instansi terkait di sekolah tersebut. Termasuk pada hari ini didatangi Ombudsman DIY, dimana mereka menanyakan tentang perkembangan kasus dan awal mula kejadian.
Ditemui usai pertemuan, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Mlati, Yulia Rachmawati menyampaikan, pertemuan ini dilakukan sebagai bentuk klarifikasi serta upaya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan. Serta memberikan informasi resmi terkait kondisi siswa dan penanganan kasus.
"Tujuan utama pertemuan ini adalah memberikan penjelasan kepada orang tua tentang kejadian kemarin serta mengklarifikasi informasi yang beredar di masyarakat. Kami ingin mengembalikan kepercayaan orang tua terhadap sekolah dan program MBG," ujar Yulia.
Dalam pertemuan tersebut hadir perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Puskesmas Mlati II, serta pihak penyedia makanan (SPPG). Mereka diminta menjelaskan prosedur penyaluran MBG serta perkembangan proses penyelidikan dugaan keracunan.
Disebutnya Yulia, sampai hari ini kondisi siswa yang sebelumnya mengalami keluhan kesehatan sudah berangsur membaik. Namun masih terdapat tiga siswa yang menjalani perawatan di RSUD Sleman karena mengalami gejala sesak nafas.
"Hanya tinggal tiga yang masih dirawat di RSUD Sleman, dan salah satunya diinformasikan sudah diizinkan pulang hari ini. Yang tiga ini karena sempat mengalami sesak napas akhirnya angsung dirujuk ke rumah sakit," ungkapnya.
Lebih lanjut, Yulia menyebut bahwa kejadian bermula pada Rabu pagi (6/8), saat pihak sekolah mengetahui banyak siswa tidak masuk dan melaporkan keluhan yang seragam, yakni sakit perut dan diare. Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa semua siswa sebelumnya mengonsumsi menu nasi rawon dari program MBG pada hari Selasa (5/8).
"Gejalanya mulai muncul Selasa malam kemarin setelah mereka makan nasi rawon yang menjadi menu MBG hari itu. Kemudian, pagi harinya, kami mendapati banyak siswa tidak masuk sekolah, dan setelah kami telusuri, keluhannya serupa yaitu diare. Jadi itu semua merujuk ke MBG," katanya.
Adapun data terakhir yang dikantongi pihak sekolah, saat ini ia mencatat sekitar 83 siswa terdampak hingga Selasa siang kemarin, namun diperkirakan jumlahnya bisa mendekati 90 orang.
Oleh karena itu, Yulia memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar tatap muka dan mengalihkan ke pembelajaran daring agar siswa dapat memulihkan kondisi fisik dan psikisnya.
"Secara fisik mereka terlihat lemas, psikisnya juga saya yakin pasti anak-anak juga ada ketakutannya. Untuk itu kami putuskan untuk diliburkan dulu sekolahnya," imbuhnya.
Selain itu, Yulia memutuskan untuk menghentikan sementara penerimaan makanan dari MBG sampai hasil penyelidikan selesai dan ada jaminan keamanan dari penyedia.
"Yang jelas kami akan terus mengawal perkembangan penyelidikan terkait dengan MBG penyebabnya apa. Untuk sementara MBG-nya pun kami hentikan, tidak tahu sampai kapan kami menolak program MBG-nya," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung