Jumat, 15 MEI 2026 • 12:20 WIB

Mahasiswa UGM Kenalkan Wisata Gastronomi, Sajikan Sate Padang Hingga Papeda

Author

Gelaran Gadjah Mada Tourism Fair (GMTF) 2026 yang berlangsung pada 7 - 8 Mei 2026 di Halaman Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya UGM. (Istimewa)

JOGJA - Mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan konsep wisata gastronomi melalui gelaran Gadjah Mada Tourism Fair (GMTF) 2026 yang berlangsung pada 7 - 8 Mei 2026 di Halaman Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Mengusung tema "Jelajah Melalui Lidah", acara yang digagas Himpunan Mahasiswa Pariwisata (HIMAPA) itu menghadirkan beragam kuliner khas Nusantara sebagai media untuk mengenalkan budaya, sejarah, hingga filosofi di balik makanan tradisional.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan enam stand utama yang mewakili keragaman kuliner dari pulau-pulau besar di Indonesia, yakni Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, serta stand Netherlands Indies yang merepresentasikan pengaruh budaya Belanda terhadap kuliner Indonesia.

Berbagai makanan khas disajikan dalam acara itu, mulai dari sate Padang, soto Banjar, es pisang hijau, aneka jenang, klappertaart, macaroni schotel, hingga papeda.

Koordinator Umum GMTF 2026, Kayla Diandra Anandita, mengatakan konsep gastronomi yang diusung tidak hanya berfokus pada kegiatan makan, tetapi juga memberi pengalaman edukatif kepada pengunjung mengenai asal-usul dan proses pembuatan makanan.

"Pengunjung bisa bertanya langsung kepada pemandu mengenai alasan pemilihan bahan atau bagaimana cara pembuatan makanan tersebut, misalnya kenapa membuat papeda harus menggunakan sagu dan bukan nasi," ujar Kayla dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Kampus Jadi Operator MBG? Pakar UGM: Melenceng dari Tridharma Perguruan Tinggi

Menurut perempuan yang akrab disapa Dian itu, gastronomi memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena makanan telah menjadi bagian penting dari budaya di berbagai daerah.Ia menilai keberagaman kuliner Nusantara dapat menjadi daya tarik wisata yang potensial, terutama bagi wisatawan mancanegara.

"Pergi makan pun sebenarnya termasuk bentuk pariwisata. Turis asing dari Belanda atau Prancis sangat antusias dan penasaran dengan cita rasa makanan lokal seperti rendang dan nasi goreng saat pertama kali datang ke Indonesia. Karena itu, kita harus bangga dengan makanan kita," katanya.

Dian berharap penyelenggaraan GMTF dapat semakin memperkenalkan Program Studi Pariwisata UGM kepada masyarakat luas sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengelola event pariwisata.

"Mahasiswa Pariwisata harus terus belajar bagaimana membuat dan mengelola event-event pariwisata," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Pariwisata UGM, Dr. Wiwik Sushartami, M.A., mengapresiasi panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara tersebut.

Baca juga: Delegasi Majelis Nasional Korea Selatan Kaji Sistem DPRD DIY dan Pembentukan Perda

Gelaran Gadjah Mada Tourism Fair (GMTF) 2026 yang berlangsung pada 7 - 8 Mei 2026 di Halaman Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya UGM. (Istimewa)

Ia berharap pengalaman dalam GMTF dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan penyelenggaraan event sekaligus memperluas jejaring di masa depan.

"Melalui event ini, panitia bisa belajar lebih banyak dalam penyelenggaraan acara dan memperluas jaringan untuk masa depan mereka," pungkas Wiwik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU