JOGJA - Bagi banyak orang, kopi adalah "bahan bakar" wajib sebelum memulai aktivitas. Kandungan kafeinnya yang ampuh mengusir kantuk dan memperbaiki suasana hati menjadikan minuman ini primadona global.
Dosen sekaligus peneliti Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) FTP UGM, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kopi menyimpan kekayaan komponen bioaktif. Selain kafein sebagai antagonis reseptor adenosin untuk kewaspadaan, kopi mengandung asam klorogenat yang berfungsi sebagai antioksidan kuat.
"Terdapat senyawa trigonelin yang berperan sebagai prekursor pembentuk aroma khas kopi selama proses roasting," ujar Widiastuti dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh bijinya, tetapi juga oleh tangan yang mengolahnya. Dalam hal ini, Widi menyoroti bahwa proses roasting (penyangraian) adalah fase krusial yang mengubah profil kimia kopi secara drastis melalui reaksi Maillard dan karamelisasi.
"Perubahan komposisi ini tidak hanya memengaruhi cita rasa, tetapi juga karakteristik kimia kopi secara keseluruhan," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa terdapat senyawa turunan seperti gula alkohol (polyols) yang memiliki kalori lebih rendah dibanding gula sederhana namun tetap berkontribusi pada energi.
"Hal ini membuat cara penyajian seperti penambahan gula atau krimer menjadi faktor penentu apakah kopi tersebut tetap sehat atau justru sebaliknya," katanya.
Waktu Konsumsi Adalah Kunci
Seringkali orang mengeluh sulit tidur setelah minum kopi. Menurut Widi, hal ini berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh. Ia menyarankan konsumsi kopi dilakukan pada pagi hingga siang hari untuk performa maksimal. Menurutnya, kafein yang dikonsumsi terlalu larut dapat menunda produksi hormon melatonin, yang bertugas mengatur sinyal tidur di otak.
"Konsumsi kopi yang baik adalah pada pagi hingga siang hari, sedangkan pada malam hari dapat mengganggu siklus bangun dan tidur," ungkap Widiastuti.
Kopi vs Teh: Mana yang Lebih Kuat?
Disisi lain, Widi membandingkan kandungan kafein antara kopi dan teh. Meski kopi umumnya lebih "nendang", teh bisa saja memiliki kandungan kafein yang setara tergantung cara penyeduhannya.
"Jika teh diseduh dengan gramasi yang lebih tinggi, kandungan kafeinnya juga dapat meningkat,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail