JOGJA - Anggapan bahwa pola makan sehat itu mahal nampaknya perlu dikoreksi. Sebuah studi bertajuk ‘Healthy diets are affordable but often displaced by other foods in Indonesia’ yang dimuat dalam jurnal Food Policy mengungkap fakta mengejutkan yakni mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya mampu secara ekonomi untuk membeli makanan sehat, namun mereka justru lebih memilih makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).
Fenomena pergeseran selera ini menjadi alarm bagi kesehatan publik. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, menjelaskan bahwa keputusan memilih makanan tidaklah sederhana dan tidak melulu soal isi dompet.
Menurut Dini, sapaan akrabnya, faktor internal seperti preferensi rasa dan kebiasaan yang dibentuk sejak kecil jauh lebih dominan dalam menentukan menu harian masyarakat modern.
"Jadi memang ketika seseorang memilih untuk memakan atau tidak memakan suatu jenis makanan itu tidak semata soal kemampuan untuk membeli makanan tersebut," ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia menekankan bahwa lingkungan keluarga adalah "ruang kelas" pertama bagi lidah seseorang. Jika sejak kecil anak-anak sudah akrab dengan makanan tinggi gula dan lemak, maka lidah mereka akan sulit menerima makanan alami seperti sayur dan buah saat dewasa.
"Apabila individu sejak kecil terbiasa dengan pola makan tertentu, maka preferensi itu akan terus terbentuk dan terbawa hingga dewasa," jelasnya.
Selain itu, gaya hidup serba instan di perkotaan turut memperparah keadaan. Membeli makanan jadi atau "jajan" dianggap lebih praktis daripada memasak sendiri. Celakanya, opsi makanan yang tersedia di pasaran umumnya didominasi oleh gorengan dan makanan rendah serat.
"Kebiasaan hidup yang praktis menjadikan opsi membeli makanan jadi lebih banyak dilakukan, sementara pilihan yang tersedia sering kali kurang sehat," ungkap Dini.
Baca juga: Diduga Maladministrasi, TPS3R Tamanan Bantul dinilai Ganggu Aktivitas Warga dan SLB
Lebih lanjut, ia menyoroti rendahnya konsumsi kacang-kacangan dan sayur yang juga dipicu oleh faktor tekstur. Ada individu yang enggan makan buah karena terasa berair atau sayur karena berserat.
"Biasanya ini terjadi karena sudah terbiasa dengan makanan olahan, sehingga pilihan terhadap makanan alami menjadi lebih rendah," tuturnya.
Dampak dari pola makan buruk ini bukan sekadar masalah berat badan, melainkan meningkatnya tren Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, hingga dislipidemia di kalangan anak muda.
"Saat ini bahkan kasus penyakit tidak menular tersebut sudah banyak ditemukan pada individu berusia di bawah 40 tahun," tegas Dini.
Untuk membendung tren negatif ini, edukasi gizi melalui media digital dianggap krusial, terutama untuk menyasar milenial dan Gen Z. Dini menyarankan penggunaan visual yang menarik serta kolaborasi dengan tokoh publik.
"Edukasi melalui media sosial dengan pendekatan visual yang menarik dan melibatkan influencer bisa menjadi salah satu cara yang cukup efektif," katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa edukasi saja tidak cukup. Perlu ada campur tangan pemerintah dalam meregulasi lingkungan pangan, seperti pemberian label gizi yang lebih mudah dipahami orang awam.
Di samping itu, penguatan edukasi berbasis keluarga dan sekolah tetap menjadi pondasi utama. Menurutnya, keluarga adalah tempat awal seseorang belajar tentang pola makan, sehingga pendekatan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan.
"Misalnya melalui pencantuman label gizi yang lebih sederhana seperti traffic light food, sehingga masyarakat lebih mudah menentukan pilihan makanan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA