Dosen UGM Berikan Tips Kelola Keuangan Pascalebaran, Salah Satunya Cicilan Utang diluar Kredit KPR Tidak Lebih 35 Persen
JOGJA - Euforia Lebaran kerap berdampak pada lonjakan pengeluaran masyarakat, tidak hanya saat hari raya, tetapi juga setelahnya. Kondisi ini dinilai perlu diwaspadai agar tidak mengganggu keseimbangan keuangan pribadi.
Ekonom Eddy Junarsin mengatakan, tingginya konsumsi pascalebaran tidak lepas dari faktor psikologis. Menurutnya, suasana perayaan membuat individu cenderung melanjutkan kebiasaan belanja meski momen utama telah berlalu.
"Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal," ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat perlu memiliki semacam "alarm" kesadaran untuk menandai berakhirnya periode konsumsi tinggi. Dengan begitu, pengelolaan keuangan dapat kembali dilakukan secara disiplin dan terarah.
Dalam pengaturan keuangan, Eddy menyebut rasio tabungan atau investasi ideal berada pada kisaran 10 - 20 persen dari pendapatan bersih. Sementara itu, rasio cicilan utang di luar kredit pemilikan rumah (KPR) disarankan tidak melebihi 35 persen dari pendapatan.
"Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay," jelasnya.
Baca juga: Buka IUP Gelombang II, UGM Tawarkan Double Degree Hingga Jaminan Karier Internasional
Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat, terutama mahasiswa, untuk mulai memahami investasi sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui pembelajaran manajemen keuangan maupun praktik langsung menggunakan berbagai platform investasi yang tersedia.
Disamping itu, menurutnya, aspek perlindungan finansial juga menjadi perhatian. Eddy menekankan pentingnya asuransi sebagai bagian dari manajemen risiko.
"Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen. Jadi, ini merupakan suatu praktik yang lumrah dan penting," tegasnya.
Apalagi di tengah ketidakpastian global yang dikenal dengan istilah VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous), ia mengingatkan masyarakat untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun usaha.
Baca juga: FKG UGM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Soroti Ketimpangan Layanan Gigi
Ia juga menegaskan, prinsip utama yang perlu dijaga adalah memastikan pengeluaran tidak melebihi pendapatan, kecuali untuk kepentingan investasi.
"Pupuk persatuan di dalam komunitas, kurangi perdebatan atau konflik yang tidak konstruktif," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail