Rabu, 23 JULI 2025 • 14:05 WIB

Pergeseran Tren Busana, UGM Dorong Mode Lokal untuk Diperkuat

Author

Diskusi pembahasan pergeseran tren busana di Gedung Pusat UGM. (Istimewa)

JOGJA - Pergeseran tren busana global dinilai semakin menggerus keberadaan sandang berbasis budaya lokal Indonesia. Untuk itu, berbagai pihak mendorong adanya penguatan kembali terhadap mode lokal agar tak kehilangan akar tradisinya. Isu tersebut mengemuka dalam lokakarya bertajuk “Revitalisasi Budaya Sandang: Memperkuat Jalinan Industri Mode Berbasis Tradisi dan Warisan Keanekaragaman Hayati”, yang digelar di Ruang Multimedia, Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, belum lama ini.

Chandra Kirana, perwakilan Yayasan Sekar Kawung sekaligus alumnus UGM, menyampaikan bahwa keberagaman budaya sandang di Indonesia sangatlah kaya. Namun, menurutnya, pergeseran pola selera masyarakat terhadap tren busana modern membuat kekayaan ini makin tersisih.

Menurutnya, tren busana lokal sebenarnya telah mengakar di tengah masyarakat. Namun karena minimnya eksplorasi dan regenerasi pelaku mode berbasis tradisi, potensi ini tidak tergarap maksimal.

Mode di Indonesia harus digali kembali agar mampu mengenali kembali budaya sandang di Nusantara. Kita sudah punya pakem dan karakter sendiri, tinggal bagaimana mengangkatnya kembali agar sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menegaskan pentingnya kegiatan semacam ini dalam menjalin sinergi antarlembaga untuk merevitalisasi budaya sandang.

UGM turut memberikan perhatian terhadap isu ini sebab sandang tidak hanya bagian dari budaya saja, tetapi juga menjadi identitas bangsa,” kata Danang.

Baca juga: Update Terbaru Hasil Penrlitian Pakar UGM di 40 Gunung Berapi yang Ungkap Kandungan Potasium Dalam Magma

Lokakarya tersebut menghadirkan para praktisi dan akademisi dari berbagai bidang dalam empat sesi diskusi. Di antaranya adalah desainer kebaya Lila Imelda Sari melalui label Lemari Lila, yang mempresentasikan pengembangan berbagai jenis kebaya berbasis kekayaan lokal. 

Turut hadir pula desainer busana Anthok Kalarie yang memperkenalkan teknik ecoprint, yaitu proses pencetakan motif kain dari dedaunan alami. Menurutnya, eksplorasi teknik ramah lingkungan ini bisa menjadi jembatan antara estetika dan pelestarian alam.

Sementara itu, Prof. Edia Rahayuningsih, Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM, menyoroti pentingnya pewarna alami dalam industri mode. Ia menyebut Indonesia merupakan salah satu penghasil warna biru indigo alami terbesar di dunia, namun belum banyak dimanfaatkan secara optimal oleh industri mode dalam negeri.

Semua ini kembali lagi perlu tiga hal utama: sabar, telaten, dan semangat berkolaborasi,” kata Edia, yang juga aktif dalam Indonesia Natural Dye Institute (INDI) UGM.

Baca juga: Cerita Mahasiswa KKN UGM di Pulau Terluar Indonesia, Ingin Bentuk Desa Tangguh Bencana

Lembaga ini saat ini menjadi bagian dari UNESCO Chair on Research and Education dalam riset pewarna alami. Prof. M. Baiquni, Ketua Dewan Guru Besar UGM, dalam penutupannya menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi ajang komunikasi dan kolaborasi antaralumni lintas bidang.

Ini bukan sekadar diskusi, tetapi bagian dari membentuk kekuatan bersama yang berangkat dari tradisi dan inovasi,” ujarnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU