JOGJA - Seniman lintas medium Win Dwi Laksono kembali menyapa publik seni Yogyakarta lewat pameran tunggal bertajuk "Rindu Masa Lalu", yang dibuka Minggu, 13 Juli 2025, di Jogja Disability Arts, Jalan Ringroad Barat, Geblagan, Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Pameran ini menghadirkan sisi yang kurang dikenal dari Win, yakni karya ilustrasi dua dimensi yang selama ini tertutup oleh popularitasnya sebagai pematung. Karya-karya tersebut berasal dari arsip panjang sejak awal kariernya di era 1980-an hingga sketsa terbarunya tahun ini.
Kurator pameran, Tera Brajaghosa, menjelaskan bahwa karya-karya dalam pameran ini dibagi menjadi tiga kategori utama.
“Pertama adalah ilustrasi cerita, yang dibuat untuk mengiringi kisah-kisah dari dua penulis besar, Kopingho dan Esamin Tarja, serta beberapa cerpen lainnya. Kedua, sketsa ilustrasi untuk kebutuhan para pematung, di mana Pak Win diminta membuat konsep visual untuk relief dan diorama. Dan yang ketiga, sketsa bebas eksploratif ekspresi liar yang keluar begitu saja tanpa objek spesifik,” jelas Tera, Minggu (13/7/2025).
Sementara itu, Win Dwi Laksono, mengungkapkan bahwa proses kreatifnya banyak dipengaruhi oleh pertemuan dan pengalaman batinnya bersama para tokoh sastra, termasuk Kopingho dan Esamin Tarja. Ia menuturkan bahwa ilustrasi-ilustrasi ini bukan sekadar gambar, tetapi hasil dari perjalanan spiritual, imajinatif, dan rasa hormat pada proses penciptaan.
“Saya waktu itu masih muda, diajak masuk ke kamar pribadi Kopingho. Ada lima mesin ketik manual untuk cerita yang beda-beda. Saya tanya ending-nya gimana, dia bilang: ‘Saya juga belum tahu’. Itu indah sekali, indahnya ketidaktahuan. Di sisi lain, Esamin Tarja sangat tertib dan risetnya kuat. Saya belajar dari keduanya,” ujar Win.
Pameran ini, kata Win, juga menjadi semacam refleksi pribadi bagi Win. Judul "Rindu Masa Lalu" tersebut diambil dari lagu yang ia ciptakan tahun 2003 bersama kelompok musiknya yang kini telah bubar. Lagu tersebut akan kembali ditampilkan dalam pertunjukan musik spesial selama masa pameran.
“Banyak yang saya heran sendiri. Saya lihat karya tahun 90-an, kok bisa ya saya gambar begini? Ternyata mengenali diri sendiri itu perlu waktu lama. Tapi saya bahagia bisa kembali ke akar, ke sketsa dan ilustrasi yang saya cintai dulu,” tutur Win.
Konferensi pers pameran tunggal bertajuk "Rindu Masa Lalu", di Jogja Disability Arts, Jalan Ringroad Barat, Geblagan, Tamantirto, Kasihan, Bantul. (Olivia Rianjani)
Sebagian karya yang dipamerkan akan dijual dalam bentuk cetakan (print) dengan harga terjangkau, antara Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Sementara karya orisinal akan ditawarkan secara terbatas dan bisa dibicarakan secara langsung. Beberapa karya ilustratif yang ditampilkan, seperti sketsa berjudul Bagus Sajiwo, membawa kesan personal yang kuat.
"Itu masa-masa romantis, masa pengantin baru mungkin. Tapi jangan tanya ke ibu, bisa dimarahi,” ucap Win sambil tertawa.
Sebagai informasi, pameran ini akan berlangsung selama dua minggu dan terbuka untuk umum. Selain pameran visual, sejumlah pertunjukan musik dan diskusi seni dijadwalkan untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung