Kaget Slogan "Gaji Besar" Guru Muhammadiyah 95 Persen Akhirat 5 Persen Dunia, Menteri Abdul Mu'ti Ingin Ubah Lewat Wakaf Hingga Investasi
JOGJA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti isu kesejahteraan guru yang hingga kini masih menjadi tantangan paling sensitif dan kompleks. Hal tersebut ia sampaikan saat meresmikan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Yogyakarta, Minggu (5/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mu'ti menceritakan pengalaman pribadinya saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam sebuah acara pelatihan guru Dikdasmen. Ia mengaku kaget sekaligus terenyuh saat menemukan slogan yang terpampang disana yakni "Guru Muhammadiyah walau gaji besar tetap semangat."
"Saya mikir, 'walau gaji besar tetap semangat' ini gimana? Rupanya, 95 persen gajinya di akhirat, yang 5 persen di dunia," ungkap Mu'ti yang disambut tawa hadirin.
Baca juga: Dikukuhkan Jadi Guru Besar Biologi UGM, Prof Hendry Saragih Ungkap Potensi Industri Ayam Lokal
Ia mengakui bahwa isu gaji guru adalah topik yang paling "mudah terbakar" atau flammable. Menurutnya, selama ini guru-guru di lingkungan Muhammadiyah, seperti di TK ABA, kerap menerima penghasilan yang disebut sebagai "bisaroh" atau tanda gembira, bukan gaji ideal.
"Makanya gaji guru-guru TK ABA berapa? Nggak usah disebut ya. Sebut saja bisaroh lah gitu bisaroh saja lah, tanda gembira gitu," ucapnya.
Untuk mengubah realitas tersebut, Mu'ti mendorong Muhammadiyah untuk melakukan transformasi pengelolaan filantropi. Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Al-Azhar di Kairo yang mampu memberikan beasiswa kepada ribuan mahasiswa asing berkat dana wakaf.
"Saya membayangkan di Muhammadiyah, kekuatan filantropi Islam bisa menjadi kekuatan yang membuat kita melaksanakan banyak hal tanpa harus menggunakan jasa perbankan. Tinggal bagaimana manajemennya," jelas Mu'ti.
Ia juga menawarkan solusi melalui pendekatan investasi, salah satunya dengan skema Cash Waqf Linked Deposit (CWLD). Mu'ti mengilustrasikan jika Muhammadiyah mampu menghimpun dana wakaf produktif sebesar Rp 50 miliar, maka hasil bagi hasilnya dapat dialokasikan khusus untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
"Kalau itu bisa dikhususkan untuk menggaji guru di Muhammadiyah, bisa tinggi gaji guru kita. Sehingga ungkapan 'walau gaji besar tetap semangat' itu bisa kita ubah menjadi lebih baik," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara