Rabu, 17 JUNI 2026 • 07:20 WIB

Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 di Jogja: Pertama Kalinya Ada Wayangan Karena Alasan Ini dan Doakan Kedamaian Indonesia

Author

Suasana khidmat prosesi adat Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng di Kota Jogja, pada Selasa (16/6/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Ribuan warga bersama Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kembali memadati kawasan keraton untuk mengikuti prosesi adat Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng dalam rangka memperingati pergantian Tahun Baru Jawa Malam Satu Suro Alip/B 1960, Selasa (16/06/2026) malam hingga dini hari.

Ada yang istimewa dalam peringatan tahun ini. Untuk pertama kalinya, rangkaian acara dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit sebelum prosesi jalan kaki tanpa bicara (tapa bisu) dimulai.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem, KRT. Kusumanegara, menyampaikan bahwa atas izin dari Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X melalui Kawedanan Hageng Panitropuro, para Abdi Dalem dan masyarakat dapat menggunakan Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti beserta seluruh kelengkapannya.

"Jadi malam ini Selasa 16 Juni 2026 bertepatan dengan Malam Satu Suro tahun B 1960 seperti yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem atas berkenan Ngarsa Dalem Sri Sultan melalui Kawedanan Hageng Panitropuro. Kami diizinkan untuk menggunakan Kagungan dalem bangsal Poconiti beserta seluruh kelengkapannya untuk menyelenggarakan kegiatan adat Hajad Kawula dalem untuk memperingati pergantian tahun baru Jawa ini," ujar KRT Kusumanegara.

Adapun rute dan prosesi inti acara masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan macapat, laporan ketua panitia, serta sambutan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selaku pendukung acara, dan ditutup oleh sambutan dari pihak Keraton Yogyakarta.

"Dari Keraton bertepatan lonceng di Kagungan Dalem kemandungan lor atau keben ini berbunyi 12 kali maka utusan dari Keraton atau perwakilan dari Keraton akan melepaskan iring-iringan ini," jelasnya.

Menariknya, prosesi tahun ini juga diikuti oleh salah satu keluarga inti Keraton Yogyakarta.

"Menantu Ngarsa Dalem Kanjeng Yudha juga berkenan untuk turut serta membersamai kami untuk jalan Mubeng Beteng," kata KRT. Kusumanegara.

Baca juga: Warga Panjatkan Doa di Makam Raja Imogiri, Ikatan Batin Leluhur Abdi Dalem Hingga Keikhlasan Tukang Ojek Warnai Takziah PB XIII

Rute Sepanjang 5 Kilometer

Sementara itu, Pengurus Paguyuban Abdi Dalem lainnya, KRT. Wijayapamungkas, menjelaskan secara detail teknis pelaksanaan Mubeng Beteng. Prosesi jalan kaki ini dimulai tepat pada pukul 00.00 WIB dari Bangsal Ponconiti. Pelepasan iring-iringan dipimpin langsung oleh salah satu pengageng keraton dan dikomandoi oleh Kanjeng Tumenggung Intoko Sri Narsum.

"Selanjutnya arah Mubenhg Beteng, nanti dari Poconiti ini keluar keluar langsung arah ke kanan menuju alun-alun utara, dari alun utara lewat jalan Kauman sampai pojok Beteng Lor Kulon ke kiri, langsung arah ke jalan Wahid Hasyim sampai di pojok Beteng Kidul Kulon arah ketimur sampai pojok Beteng Timur," jelas KRT. Wijayapamungkas.

Dari Pojok Beteng Timur, rute berlanjut ke utara melalui Jalan Gondomanan, menuju Alun-alun Utara, Jalan Pangurakan, lalu berbelok kembali ke area keraton (Keben). Total jarak yang ditempuh diperkirakan mencapai kurang lebih 5 kilometer.

Mengenai kehadiran pagelaran wayang kulit yang menjadi pembeda dari tahun-tahun sebelumnya, KRT. Wijayapamungkas membenarkan bahwa agenda tersebut baru pertama kali diadakan dan diinisiasi oleh Kawedanan Keprajuritan. Pagelaran ini juga menjadi penanda tibanya Tahun B 1960 dalam kalender Jawa.

"Kalau wayangan itu penyelenggarannya dari kawasan dana keprajuritan yang kebetulan dilaksanakan pada malam hari ini juga merupakan tanggap warso datangnya Tahun B 1960. Dan nanti selesai habis dari wayangan teman-teman yang ada di sana langsung akan bergabung ikut Mubeng Beteng," terangnya.

Terkait apakah hal pagelalaran wayang ini berkaitan erat dengan momentum "Tahun B", ia membenarkan keistimewaan urutan tahun tersebut.

"Iya baru pertama tahun ini. Ya memang baru pertama ini. Kalau terkait tahun B itu kan tahun awal dari perjalanan tahun Jawa. Jadi dari Dal, B, Wawu dan selanjutnya," imbuhnya.

Filosofi Meneng dan Doa untuk Indonesia

Suasana khidmat prosesi adat Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng di Kota Jogja, pada Selasa (16/6/2026). (Olivia Rianjani)

​Antusiasme masyarakat dalam mengikuti tradisi ini sangat tinggi. KRT. Wijayapamungkas memperkirakan ada ribuan Abdi Dalem dan masyarakat umum yang melebur menjadi satu. Sebagai gambaran, pada pelaksanaan tahun lalu saja, tercatat sekitar 10.000 orang turut serta.

Di balik riuhnya partisipasi massa, prosesi Mubeng Beteng atau Tapa Bisu ini sejatinya membawa pesan spiritual yang mendalam, yakni ajakan untuk mengheningkan cipta dan melakukan refleksi diri.

"Makna Mubeng Beteng itu sebenarnya merupakan bagikan kita intropeksi, mawas diri, sambil berjalan kita meneng (diam), menengnya itu bukan meneng dalam arti pasif tapi meneng dalam sambil berdoa, sambil ngevaluasi apakah yang saya lakukan yang kemarin. Kalau jelek kita kembalikan kepada yang benar," tutur KRT. Wijayapamungkas.

Baca juga: Momen 80 Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kesiapsiagaan Kebakaran untuk Abdi Dalem

Sehingga melalui keheningan berjalan kaki mengitari benteng keraton, terselip pula doa dan harapan besar untuk kedamaian negeri.

"Dan di samping itu juga memohon kepada Yang Maha Kuasa agar suasana Indonesia pada umumnya khususnya juga Jogja agar tetap ayem-ayem tentrem," pungkas KRT. Wijayapamungkas.

Kemudian, prosesi di Bangsal Ponconiti tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Abdi Dalem Punokawan Keraton.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU