Sabtu, 13 JUNI 2026 • 19:30 WIB

Dari Rakyat Untuk Rakyat, Cerita Para Relawan Relawan Dadakan Ini Sokong Logistik - Medis dan Larisi UMKM ke Massa Aksi "Rakyat Memanggil'"di Gejayan

Author

Suasana aksi di pertigaan Gejayan, Sleman, DIY, pada Sabtu (13/6/2026). (Istimewa)

JOGJA - Ratusan massa yang didominasi oleh mahasiswa memadati kawasan Gejayan, Kabupaten Sleman, dalam aksi bertajuk "Rakyat Memanggil", Sabtu sore (13/6). Meski sempat diguyur hujan sejak memulai aksi sekitar pukul 14.30 WIB, semangat massa aksi tidak surut. Mereka bertahan sembari mendengarkan orasi dan pembacaan tuntutan dari berbagai elemen masyarakat secara bergantian di bawah pengawalan aparat kepolisian.

Di tengah riuhnya orasi, di sudut jalan tampak sekelompok pemuda sibuk membagikan makanan dan air mineral kepada para demonstran. Mereka adalah para relawan dari Humanity Care.

Salah satu relawan tersebut, Elizabeth, menceritakan bahwa kehadiran mereka di aksi sore ini terbilang sangat mendadak. Humanity Care sendiri merupakan gerakan yang berbasis di Jakarta dan telah bergerak sekitar 2 hingga 3 tahun terakhir. Namun, untuk aksi di Yogyakarta kali ini, koordinasi baru dilakukan beberapa jam sebelum aksi dimulai.

"Jadi sebenarnya Humanity Care itu dari Jakarta, tapi teman-teman dari Jakarta belum sampai ke Jogja. Kami itu kayak volunteer dadakan, baru dikabarin tadi siang. Mereka open recruitment relawan di Twitter (X), butuh relawan gitu-gitu, terus DM. Kami inisiatif, jadi baru tadi siang ini koordinasinya," ujarnya di sela - sela aksi.

Karena tim pusat belum tiba, Elizabeth bersama empat relawan lokal Yogyakarta lainnya yang semuanya perempuan langsung turun tangan meng-handle kebutuhan logistik di lapangan.

"Kami ada berdelapan sebenarnya, tapi kalau yang di Jogja relawan Jogjanya ada lima. Cewek semua sih kebetulan tadi. Kami bagi-bagi konsumsi sih sebenarnya, jadi logistik dan konsumsi, ada juga ambulans, medis itu juga lagi keliling," katanya.

Dalam aksi ini, mereka membagikan sedikitnya 100 boks air mineral dan 100 boks makanan. Tak hanya itu, mereka juga berniat memborong dagangan para pelaku UMKM di sekitar lokasi aksi untuk dibagikan ke massa.

"Tadi sudah ada siomay, sudah habis, orangnya sudah pulang. Terus ada bakwan kawi itu juga. Jadi sebenarnya memang buat logistik, buat konsumsi, biar teman-teman semangat aksinya enggak kelaperan," kata Elizabeth.

Baca juga: Klakson Bersahut-sahutan Para Pengendara di Bundaran UGM, Simbol Aksi "Nyerah Jadi WNI", Eks Rektor UII yang Turun Aksi Itu :"Jangan Sepelehkan!"

Jeritan Kelas Menengah

Sebagai warga Yogyakarta yang baru saja lulus kuliah, Elizabeth mengaku tergerak ikut serta karena merasakan betul bagaimana kondisi ekonomi masyarakat saat ini, khususnya kelas menengah, yang kian terjepit oleh berbagai kebijakan pemerintah.

"Pertama to be honest, kami kita semua kan kelas menengah ya, sebenarnya udah sangat-sangat tergencet. Selain pertamax naik, dolar naik, terus pajak nih habis gini katanya bakal naik juga. Sedangkan di sisi lain pemerintahnya tuh flexing ke Prancis lah, ke luar negeri lah. Terus nggak mau mendengarkan setiap kali kita semua, bukan cuma mahasiswa ya, para ahli-ahli juga ngasih kritik, ngasih masukan tuh gak pernah didengar gitu," ucapnya.

Bagi Elizabeth, situasi hari ini sudah sepatutnya memicu kemarahan kolektif karena dampaknya sudah langsung dirasakan di kehidupan sehari-hari masyarakat kecil hingga anak kos.

"Harusnya situasi kayak gini tuh udah bisa jadi kemarahan kolektif gitu. Karena semua kebijakan yang salah ini sampai ke depan meja makan kita. Beras sama mahal, anak kosan, warung-warung kan juga naikin harga juga, kosan juga naik, listrik akhir-akhir ini di Jogja mati bergilir gitu, pemadaman bergilir," sesalnya.

Ia juga menilai, ada kekeliruan besar dalam tata kelola anggaran negara yang dinilai tidak menyentuh akar masalah ekonomi masyarakat bawah.

"Jadi memang negara ini sebenarnya sedang salah urus gitu. Ada pos-pos anggaran yang nggak seharusnya dimasukkan ke yang seharusnya gitu, anggarannya keliru gitu lah. Lebih mengutamakan MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Kopdes gitu ya, yang sebenarnya tuh nggak bikin ekonomi muter," ungkap Elizabeth.

Meskipun sebelumnya pernah menghadiri aksi serupa seperti gerakan "Reformasi Dikorupsi" hanya sebagai partisipan, Elizabeth melihat ada aura positif dan optimisme dalam aksi Gejayan kali ini. Hingga menjelang petang, situasi terpantau aman dan kondusif.

"Kalau dibandingin aksi sebelumnya, ini sih lebih kondusif. Tapi ya kita nggak tahu lagi nanti kalau agak malam. Biasanya kan chaos-nya nanti jam-jam 6 ke atas. Tapi aku berdoa semoga kondusif aja gitu," tuturnya.

Baca juga: Diguyur Hujan, Ratusan Massa Aliansi Rakyat Memanggil Bawa 10 Tuntutan Aksi di Gejayan Desak Evaluasi Total Pemerintah :"Tolak MBG Hingga Kopdes!"

Kendati demikian, ia mengaku bangga melihat gerakan mahasiswa di Yogyakarta yang kembali menunjukkan taringnya dan lepas dari sikap apatis.

"Aku senang karena adik-adik mahasiswa udah mulai punya kesadaran kolektif bahwa ini nggak bener nih, ada alarm sosialnya lah. Jadi aku cukup (puas). Nanti kurikulum pendidikan di kampus tuh masuk gitu loh, nggak apatis lagi gitu," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU