Update Pembacokan Maut di Kridosono Jogja : Motif Pelaku Geng Vozter Buat Jaga Wilayah Ternyata Korban Salah Sasaran, 4 Orang DPO
JOGJA - Kasus pembacokan maut yang menewaskan seorang pelajar di kawasan Kridosono, tepatnya di depan SMAN 3 Yogyakarta, akhirnya menemui titik terang. Aparat Polresta Yogyakarta berhasil mengungkap motif di balik aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok geng bernama Vozter tersebut.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia, menjelaskan bahwa peristiwa tragis ini bermula ketika kelompok pelaku mendengar adanya informasi rencana tawuran di wilayah Jalan Magelang. Di sisi lain, korban bersama temannya yang berboncengan sepeda motor juga sedang bergerak dari kawasan Mrican, Gejayan, untuk mencari informasi terkait keberadaan kelompok lawan setelah sebelumnya sempat saling tantang di media sosial.
"Korban berboncengan sepeda motor dengan temannya, berangkat dari daerah Mrican, Gejayan, melintasi Jalan Magelang dalam rangka mencari informasi tentang keberadaan kelompok geng lawannya setelah sebelumnya terjadi saling tantang untuk tawuran di sekitar Jalan Magelang," ujar Pandia, dalam konferensi pers di Mapolresta Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Mendengar rumor tawuran tersebut, kelompok Vozter yang berjumlah enam orang kemudian berpatroli menggunakan tiga sepeda motor matik untuk menjaga area mereka.
"Pelaku dari geng Vozter mendengar adanya janjian tawuran di wilayahnya, kemudian menjaga wilayahnya dengan berkeliling sekitar Jalan Magelang," beber Pandia.
Kronologi Kejadian: Dipicu Jawaban Kepo
Ketika melintas di simpang tiga Borobudur Plaza, rombongan pelaku berpapasan dengan korban. Pelaku kemudian mendekati motor korban dan sempat terlibat adu mulut singkat.
"Rombongan pelaku mendekati korban sambil bertanya, 'Sekolah ngendi kowe?' dan dijawab korban dengan kata-kata, 'Kepo'. Kemudian rombongan pelaku kembali bertanya, 'Sekolah ngendi kowe?' dan kembali dijawab korban dengan kata-kata, 'Ora sekolah'," ungkap Pandia.
Rombongan pelaku sempat meninggalkan korban di bundaran depan Kantor Samsat. Namun, situasi memanas ketika korban justru berhenti dan menantang balik para pelaku sembari memutar-mutarkan sabuk gespernya.
"Mendengar hal tersebut dan melihat, para pelaku berbalik arah mengejar korban," katanya.
Melihat pelaku berbalik arah, korban melarikan diri ke arah timur menuju Abu Bakar Ali sambil berteriak "Vozter!". Dari kawasan Kotabaru, korban melaju ke arah Stadion Kridosono. Setibanya di depan SMAN 3 Yogyakarta, korban melihat dua orang warga sedang mendirikan tenda dan berniat berhenti untuk meminta pertolongan.
"Sesaat kemudian rombongan pelaku langsung mendekati korban dan temannya sambil menendang sepeda motor mengakibatkan korban hingga terjatuh," ujar Pandia.
Saat korban terjatuh, salah satu pelaku turun dari motor dan langsung mengayunkan senjata tajam jenis celurit berwarna biru dengan gagang kayu cokelat sepanjang 70 sentimeter ke arah dada korban.
"Kemudian salah satu pelaku langsung turun dari sepeda motor sambil mengeluarkan satu bilah senjata tajam jenis celurit warna biru dengan gagang kayu warna coklat yang langsung diayunkan ke arah tubuh korban, mengenai bagian dada yang menembus di dada bagian depan sehingga terjadi pendarahan di dalam selaput jantung," beber Pandia.
Korban sempat berusaha diselamatkan oleh temannya dengan dibonceng kembali, namun akhirnya terjatuh dan ditolong oleh warga sekitar untuk dilarikan ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sayang, nyawa korban tidak tertolong akibat pendarahan hebat.
Tiga Pelaku Ditangkap di Cilacap, Dua Berstatus Tersangka
Pasca-kejadian, lanjut Pandia, para pelaku langsung melarikan diri dari kediaman mereka. Polisi yang bergerak cepat akhirnya berhasil mengendus keberadaan mereka di wilayah Jawa Tengah.
"Petugas kepolisian dari Satreskrim Polresta Yogyakarta melakukan penyelidikan, kemudian mendapat informasi bahwa tiga orang pelaku bersembunyi di sebuah rumah di daerah Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap," jelas Pandia.
Dari penangkapan tersebut, polisi menetapkan dua orang dewasa sebagai tersangka, yakni diantaranya :
- LTF alias LUPEK (18), warga Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Berperan sebagai fighter sekaligus eksekutor pembacokan (membonceng motor Yamaha Aerox yang dikendarai TN).
- . YSF alias UCUP (18), seorang pelajar asal Mlati, Kabupaten Sleman. Berperan sebagai fighter yang ikut menyerang korban (membonceng motor Honda Scoopy hitam yang dikendarai FRL).
Sementara satu pelaku lainnya ditetapkan sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (AKH), yakni FHM alias FAHMEK (17), pelajar asal Ngemplak, Kabupaten Sleman. FHM berperan sebagai joki motor Honda Vario 160 hitam yang mengejar korban bersama MJ.
Sejumlah barang bukti turut disita, di antaranya rekaman CCTV, pakaian pelaku, dua unit sepeda motor, empat ponsel, dan satu bilah celurit maut.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 80 ayat 3 jo Pasal 76C Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
"Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda hingga Rp 3 miliar," tegas Pandia.
Empat Pelaku Buron
Hingga saat ini, polisi masih memburu empat pelaku lain yang berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO), yakni TN, FRL, MJ, dan satu pelaku lainnya. Kapolresta meminta pihak keluarga kooperatif.
"Kami mengimbau kepada keluarganya agar segera menyerahkan putranya agar bisa kita proses sesuai aturan hukum yang berlaku. Karena kalau tidak menyerahkan, maka polisi akan mengambil tindakan tegas terukur tentunya," tegasnya lagi.
Agar kejadian serupa tak terulang, Pandia mengajak seluruh masyarakat untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka melalui gerakan preventif di malam hari.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Yogyakarta khususnya, program 'Ibu Memanggil' pada saat pukul 22.00 WIB ataupun jam 10 malam, apabila anak kita belum pulang ke rumah, agar orang tua peduli untuk menelepon anaknya agar kembali ke rumah," tandasnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, AKP Riski Adrian, menambahkan bahwa identitas keempat buron tersebut sudah dikantongi sepenuhnya oleh petugas.
"Ada 4 pelaku lagi yang masih dalam buronan. Namun, 4 pelaku ini sudah kita kantongi semua alamat-alamatnya, alamat dan identitasnya," ujarnya.
Ia juga membeberkan bahwa salah satu dari buronan tersebut diduga kuat menjadi otak yang memfasilitasi pelarian para pelaku ke luar daerah.
"Satu orang pelaku ini, yang kita duga kuat merupakan otak dari kaburnya para pelaku enam orang itu. Karena dari keterangan tiga orang yang kita lakukan penangkapan, satu orang inilah yang memberikan fasilitas untuk tiga orang itu kabur ke Cilacap," ungkap Adrian.
Ia memastikan pihak kepolisian tidak akan berhenti hingga seluruh anggota kelompok yang terlibat diringkus.
"Ini masih kita buron, akan kita buru juga, sehingga kasus ini terang benderang sampai ke akar-akarnya," ucapnya.
Baca juga: Tragedi Pembacokan Kridosono Jogja : Tiga Pria Ditangkap di Cilacap, Tiga Lainnya Buron
Selain itu, Adrian meluruskan informasi mengenai hubungan antara kelompok korban dan pelaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kedua kelompok ini sebenarnya tidak memiliki masalah pribadi dan tidak sedang membuat janji tawuran satu sama lain.
"Memang geng korban ini sebenarnya bukan tantang-tantangan sama Vozter sebenarnya. Memang ada dua tim lain lagi yang sudah kita lakukan pemeriksaan. Yang ketemu, yang papasan, yaitu dengan geng Vozter," pungkas Adrian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung