Kamis, 23 APRIL 2026 • 17:55 WIB

Rektor UMY: Pintar Atau IPK Tinggi Tidak Cukup didunia Kerja

Author

Sekretaris Universitas UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA, (kiri), bersama Rektor UMYProf. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., (kanan). (Istimewa)

JOGJA - Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., memberikan peringatan keras bagi para mahasiswa agar tidak hanya mengejar angka di atas kertas. Fenomena lulusan ber-IPK tinggi yang gagal dalam seleksi kerja akibat minimnya soft skill dan kondisi kesehatan yang buruk kini menjadi perhatian serius pihak kampus.

Hal tersebut ditegaskan Prof. Nurmandi saat meresmikan Sekretariat Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMY pada Rabu (22/4/2026). Ia menyebut banyak sarjana yang "tumbang" justru di tahap-tahap awal rekrutmen.

Menurutnya, sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada aspek kognitif di dalam kelas seringkali melahirkan lulusan yang gagap saat harus berhadapan dengan dinamika profesional.

"Banyak yang IPK-nya tinggi, tapi seperti 'orang bisu' di dunia kerja. Mereka tidak mampu menyampaikan gagasan atau beradaptasi dengan tim. Ini adalah dampak dari sistem yang terlalu fokus pada kognitif di kelas, tanpa diimbangi pengalaman organisasi," ujar Prof. Nurmandi.

Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Anggaran Program Internasional UMY Terkuras Harga Tiket

Pihaknya juga menyoroti fakta mengejutkan di meja seleksi Medical Check-Up (MCU). Banyak perusahaan, terutama di sektor perbankan dan industri, terpaksa mencoret pelamar potensial karena masalah kesehatan kronis di usia muda.

Menurutnya, gaya hidup tidak sehat selama masa kuliah, seperti pola makan buruk dan kurangnya olahraga, dituding menjadi pemicu utama munculnya penyakit tidak menular (PTM) pada lulusan baru.

"Sekarang banyak perusahaan, terutama di sektor industri padat karya dan perbankan, terpaksa menolak pelamar potensial karena mereka sudah mengidap hipertensi atau gejala diabetes di usia 20-an. Percuma pintar kalau tidak sehat," katanya.

Lebih lanjut, Prof Nurmandi menyebut bahwa pembangunan Sekretariat BEM terpusat yang dirancang UMY ini sebagai solusi konkret. Ruang ini diharapkan menjadi inkubator bagi mahasiswa lintas fakultas untuk mengasah kemampuan diplomasi sekaligus membangun budaya organisasi yang lebih sehat dan teratur.

Langkah ini diklaim sebagai bentuk dukungan nyata kampus terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin Pendidikan Berkualitas (SDG 4) dan Kehidupan Sehat (SDG 3). 

Baca juga: UMY Awards 2026: Apresiasi Tokoh Indonesia Berprestasi Global Diumumkan 23 Mei

Oleh karena itu, Prof. Nurmandi berharap mahasiswa memandang organisasi sebagai kebutuhan wajib sebelum lulus.

"Organisasi mahasiswa bukan lagi kegiatan tambahan, tapi bagian integral untuk membentuk lulusan yang siap kerja secara mental, sosial, dan fisik," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU