Karangan bunga duka cita terhadap almarhum. (Istimewa)
JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi pengeroyokan sadis yang menimpa Ilham Dwi Saputra, pelajar SMP asal Bantul yang menjadi korban kejahatan sadis hingga nyaris kehilangan telinga.
Menanggapi kejadian itu, Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Yogyakarta, Mugi Suyatno, menyebut bahwa kelompok-kelompok pelajar yang berafiliasi dalam "geng sekolah" masih menjadi ancaman laten di bawah permukaan.
Mugi menjelaskan bahwa kelompok-kelompok ini biasanya tidak memiliki struktur organisasi formal, namun bergerak secara sporadis dengan dalih kesetiakawanan.
"Sekali lagi meniko seperti dengan bahasa laten, artinya itu memang tidak terorganisir, tidak berupa kelembagaan tapi itu memang bergerak. Mereka ngumpul dengan bahasa yang mereka sebut sebagai bagian dari soliditas sekolah," ujar Mugi di Balai Kota Yogyakarta, pada Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, bahasa solidaritas inilah yang menurutnya sering disalahartikan dan memicu aksi kekerasan secara spontan.
"Bahasa solidaritas itulah yang akhirnya menjadi pembenaran ketika salah satu siswa dari satu sekolah bersenggolan dengan sekolah yang lain. Kata-kata solidaritas itulah yang akhirnya bisa menggerakkan secara spontan ketika terjadi aksi-aksi yang mengarah kepada anarkis," katanya.
Selama tahun 2025, lanjut Mugi, Disdikpora Kota Yogyakarta telah melakukan langkah preventif melalui program "Gelar Pelajar Pemuda" sebanyak enam kali atau setiap dua bulan sekali. Program ini menyasar pemetaan potensi anak-anak yang kerap berkumpul dengan identitas kelompok tertentu.
Mugi pun mengakui bahwa potensi kelompok "solidaritas" ini ada di hampir setiap sekolah, terutama di tingkat menengah atas.
"Jumlah-jumlah geng sekali lagi karena meniko tidak berupa organisasi tapi bahaya laten di bawah tanah yang tidak berbentuk, meniko memang hampir semua sekolah meniko ada potensi kelompok-kelompok soliditas. Yang potensi paling besar ada di SMA maupun SMK, baik negeri maupun swasta," ungkapnya.
Oleh karena itulah, salah satu strategi konkret yang dilakukan untuk memutus rantai kekerasan adalah dengan mengalihkan energi berlebih para pelajar ke kegiatan fisik yang bermanfaat. Mugi mencontohkan langkah SMK Negeri 2 Yogyakarta yang membentuk pasukan bersih sungai.
"Anak-anak yang punya potensi kelebihan energi untuk melakukan soliditas solidaritas kelompok, kemarin diarahkan nyemplung ke sungai untuk membersihkan sungai. Awalnya itu bagian dari hukuman bagi yang melanggar tata tertib, tapi akhirnya jadi pembiasaan daripada nongkrong di warung terus jalan bareng dengan motor," jelas Mugi.
Baca juga: Genjot Predikat "City of Festival", Pemkot Jogja Ungkap Ratusan Event Bakal Ramaikan di Tahun Ini
Pengawasan di Luar Jam Sekolah
Terkait kejadian tragis yang menimpa Ilham Dwi Saputra tersebut, Mugi menekankan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari di luar jam belajar. Hal ini menjadi tantangan besar karena sudah lepas dari pengawasan satuan pendidikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung