Kamis, 23 APRIL 2026 • 17:15 WIB

Kasus Penganiayaan Sadis Pelajar di Bantul, Disdikpora Kota Jogja Soroti Geng Sekolah Berkedok Solidaritas: "Itu Bahaya Laten"

Author

Karangan bunga duka cita terhadap almarhum. (Istimewa)

JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi pengeroyokan sadis yang menimpa Ilham Dwi Saputra, pelajar SMP asal Bantul yang menjadi korban kejahatan sadis hingga nyaris kehilangan telinga.

Menanggapi kejadian itu, Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Yogyakarta, Mugi Suyatno, menyebut bahwa kelompok-kelompok pelajar yang berafiliasi dalam "geng sekolah" masih menjadi ancaman laten di bawah permukaan.

Mugi menjelaskan bahwa kelompok-kelompok ini biasanya tidak memiliki struktur organisasi formal, namun bergerak secara sporadis dengan dalih kesetiakawanan.

"Sekali lagi meniko seperti dengan bahasa laten, artinya itu memang tidak terorganisir, tidak berupa kelembagaan tapi itu memang bergerak. Mereka ngumpul dengan bahasa yang mereka sebut sebagai bagian dari soliditas sekolah," ujar Mugi di Balai Kota Yogyakarta, pada Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, bahasa solidaritas inilah yang menurutnya sering disalahartikan dan memicu aksi kekerasan secara spontan.

"Bahasa solidaritas itulah yang akhirnya menjadi pembenaran ketika salah satu siswa dari satu sekolah bersenggolan dengan sekolah yang lain. Kata-kata solidaritas itulah yang akhirnya bisa menggerakkan secara spontan ketika terjadi aksi-aksi yang mengarah kepada anarkis," katanya.

Selama tahun 2025, lanjut Mugi, Disdikpora Kota Yogyakarta telah melakukan langkah preventif melalui program "Gelar Pelajar Pemuda" sebanyak enam kali atau setiap dua bulan sekali. Program ini menyasar pemetaan potensi anak-anak yang kerap berkumpul dengan identitas kelompok tertentu.

Mugi pun mengakui bahwa potensi kelompok "solidaritas" ini ada di hampir setiap sekolah, terutama di tingkat menengah atas.

"Jumlah-jumlah geng sekali lagi karena meniko tidak berupa organisasi tapi bahaya laten di bawah tanah yang tidak berbentuk, meniko memang hampir semua sekolah meniko ada potensi kelompok-kelompok soliditas. Yang potensi paling besar ada di SMA maupun SMK, baik negeri maupun swasta," ungkapnya.

Oleh karena itulah, salah satu strategi konkret yang dilakukan untuk memutus rantai kekerasan adalah dengan mengalihkan energi berlebih para pelajar ke kegiatan fisik yang bermanfaat. Mugi mencontohkan langkah SMK Negeri 2 Yogyakarta yang membentuk pasukan bersih sungai.

"Anak-anak yang punya potensi kelebihan energi untuk melakukan soliditas solidaritas kelompok, kemarin diarahkan nyemplung ke sungai untuk membersihkan sungai. Awalnya itu bagian dari hukuman bagi yang melanggar tata tertib, tapi akhirnya jadi pembiasaan daripada nongkrong di warung terus jalan bareng dengan motor," jelas Mugi.

Baca juga: Genjot Predikat "City of Festival", Pemkot Jogja Ungkap Ratusan Event Bakal Ramaikan di Tahun Ini

Pengawasan di Luar Jam Sekolah

Terkait kejadian tragis yang menimpa Ilham Dwi Saputra tersebut, Mugi menekankan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari di luar jam belajar. Hal ini menjadi tantangan besar karena sudah lepas dari pengawasan satuan pendidikan.

"Kejadiannya di luar jam belajar anak. Artinya sudah lepas dari pengawasan sekolah. Karena kejadian ini memang malam hari, lewat dari jam 22 malam, kami mendorong pengawasan dari keluarga dan masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan untuk membuat gerakan pengamanan lingkungan," ujarnya.

Kendati demikian, Disdikpora Kota Yogyakarta berkomitmen terus berkoordinasi dengan Disdikpora DIY, Balai Dikmen, serta Kementerian Agama untuk memberikan pembinaan berkelanjutan bagi 37 organisasi kepemudaan di wilayahnya yang terdiri dari para pemuda hingga mahasiswa yang notabenenya lebih senior.

"Artinya apa? Artinya bahwa ada permasalahan kecil apapun menika harus saling care satu dan yang lainnya saling melindungi, saling menjaga. Kemudian di samping itu, disatuan pendidikan sekali lagi kami sebenarnya sudah bersama disdikpora DIY pun melalui balai dikmen yang notabenya membina pelajar SMA, SMK dan kementerian agama melalui madrasah aliyah juga melakukan hal yang sama," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa menewaskan Ilham Dwi Saputra bermula pada Selasa (14/4/2026) malam ketika korban dijemput orang tak dikenal dengan sepeda motor.

Baca juga: Belum Siap Vonis, Sidang Putusan Korupsi Hibah Pariwisata Mantan Bupati Sleman Ditunda 27 April 2026

lham kemudian dibawa ke belakang SMA N 1 Bambanglipuro sebelum digiring ke Lapangan Gadung Mlaten, Caturharjo. Di lokasi tersebut, sekitar 10 orang langsung menginterogasi korban terkait dugaan keterlibatan geng motor. Meski membantah, korban tetap dianiaya secara brutal.

Diketahui sampai saat ini Polres Bantul masih menahan dua orang pelaku, diduga pelaku lainnya melarikan diri ke luar wilayah, namun proses pengejaran masih berlanjut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU