JOGJA - Dinamika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan dampak domino yang nyata bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu institusi yang terpaksa merombak strategi program internasionalnya akibat lonjakan biaya transportasi global.
Rektor UMY, Achmad Nurmandi, mengungkapkan bahwa ketegangan di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga avtur di pasar internasional secara signifikan. Hal ini berdampak langsung pada biaya pengiriman mahasiswa dan dosen ke luar negeri yang selama ini disubsidi oleh pihak kampus.
"Sekarang perang, harga tiket (pesawat ke luar negeri) juga naik karena avtur naik. Itu memengaruhi jumlah mahasiswa yang bisa kami kirim karena tiket itu subsidi dari anggaran kampus," ujar Nurmandi dikampusnya, pada Rabu (22/4/2026).
Lonjakan Biaya Hingga 300 Persen
Data dari pihak universitas menunjukkan kenaikan harga tiket yang sangat drastis. Jika sebelumnya beban anggaran untuk satu tiket perjalanan hanya berkisar di angka Rp 1 juta, kini pihak kampus harus merogoh kocek lebih dalam.
"Beban anggaran untuk satu tiket yang sebelumnya hanya berkisar di angka Rp 1 juta, kini melonjak drastis hingga mencapai rentang Rp 2 juta bahkan Rp 3 juta per orang," ungkap Nurmandi.
Ia menyebut kondisi ini menjadi tantangan berat bagi UMY yang memiliki target ambisius mengirimkan lebih dari 1.000 mahasiswa per tahun untuk program credit transfer, double degree, hingga magang internasional.
"Tak hanya mahasiswa, mobilitas dosen pun turut terdampak. Kenaikan harga akomodasi hotel dan biaya transportasi global memaksa para akademisi menyesuaikan jadwal kerja sama internasional mereka," bebernya.
Baca juga: Harga Plastik Meroket 100 Persen, Pakar UMY: Alarm Bahaya 'Cost-Push Inflation'
Pangkas Personel dan Durasi
Menyikapi keterbatasan anggaran tersebut, Sekretaris UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya kini mengedepankan langkah efisiensi agar program kerja sama luar negeri tidak terhenti total.
"Kalau biasanya kami kirim lima orang ke luar negeri dalam sekali program, sekarang menjadi tiga. Durasi (program) juga disesuaikan, misalnya dari satu minggu menjadi tiga hari, yang penting program berjalan tetapi lebih efisien," kata Bachtiar.
Meski akses keluar negeri bagi civitas akademika UMY mengalami kendala biaya, arus masuk mahasiswa asing ke kampus "Muda Mendunia" ini dilaporkan tetap stabil. Tawaran beasiswa penuh (full scholarship) dan beasiswa parsial masih menjadi daya tarik utama bagi pelajar dari Asia Selatan dan Afrika Utara.
Bachtiar mencatat, minat studi dari wilayah-wilayah yang berdekatan dengan area konflik pun tidak surut.
"Target pasar calon mahasiswa asing UMY yakni negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Afrika Utara. Bahkan, calon mahasiswa dari negara yang tengah terdampak konflik, seperti Afghanistan, tetap menunjukkan ketertarikan yang besar untuk menempuh studi di UMY," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung