Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 28 MEI 2026 • 16:24 WIB

Akademisi UGM Ungkap Fenomena Buzzer dan Ekonomi Atensi Picu Perubahan Ekosistem Komunikasi Digital

Akademisi UGM Ungkap Fenomena Buzzer dan Ekonomi Atensi Picu Perubahan Ekosistem Komunikasi DigitalDiskoma UGM edisi ke-29 bertajuk "Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi". (Istimewa)

JOGJA - Ketergantungan ekosistem komunikasi Indonesia terhadap infrastruktur raksasa teknologi global seperti Meta, Google, TikTok, hingga ByteDance dinilai telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Dominasi platform-platform digital ini tidak hanya mengubah lanskap industri media dan periklanan, tetapi juga mendefinisikan ulang cara kebenaran ditentukan, diberi nilai, dan dilegitimasi di ruang publik.

Pernyataan ini mencuat dalam Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-29 bertajuk "Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi", yang digelar secara daring, Jumat (22/5/2026), dengan dihadiri oleh 76 peserta lintas platform (Zoom dan YouTube).

Webinar tersebut mengupas riset disertasi milik Janoe Arijanto yang berjudul "Preliminary Reflections on Platform Power and the Reconfiguration of Communication Entities in Indonesia". Riset ini menyoroti bagaimana platform digital merestrukturisasi total fungsi, batasan, hingga otonomi entitas komunikasi di tanah air mulai dari media massa, agensi iklan, kreator konten, hingga institusi pemerintah.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Wisnu Martha Adiputra, S.I.P., M.Si., melontarkan kritik tajam terhadap realitas ruang digital saat ini yang dinilai kian terpolarisasi akibat algoritma.

"Algoritma ini bukannya membuat kita lebih tercerahkan, tetapi malah membuat konflik itu hitam putih, sehingga kehadiran kanal yang begitu banyak tidak meningkatkan kualitas informasi," ujarnya.

Ancaman Platformized Newsroom

Sebagai pemilik riset sekaligus praktisi senior agensi periklanan, Janoe Arijanto memaparkan data mutakhir dari DataReportal dan Reuters Institute (2024) yang mencatat Indonesia kini memiliki 221 juta pengguna internet aktif dan 139 juta pengguna media sosial. Mirisnya, sebanyak 60,4 persen konsumsi berita saat ini justru terjadi melalui platform media sosial.

Menurut Janoe, elemen algoritma seperti personalisasi feed, pelacakan data perilaku, riwayat klik, pembentukan echo chamber dan filter bubble, hingga bias AI dalam kurasi informasi telah memaksa media modern bertransformasi menjadi platformized newsroom.

"Salah satu dampak paling fatal dari sistem ini dirasakan langsung oleh media-media lokal di daerah," katanya.

Janoe pun mengungkapkan keresahannya mengenai fenomena media lokal yang kehilangan trafik secara drastis. Ironisnya, penurunan ini bukan karena mereka kalah bersaing secara kualitas dengan sesama media massa, melainkan karena jebakan ekosistem platform.

Ia bahkan menyebut, platform digital saat ini telah dirancang oleh kecerdasan buatan (AI) untuk menampilkan ringkasan artikel hanya dalam satu atau dua paragraf (zero-click search/content), sehingga audiens merasa tidak perlu lagi mengklik dan mengunjungi situs berita aslinya.

"Dampak sistemik ini sangat memukul seluruh lembaga yang menyandarkan format komunikasinya pada platform digital," kata Janoe.

Fenomena Unik Buzzer Indonesia

Sementara itu, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Pratiwi Utami, Ph.D., menilai kehadiran platform global telah menggerus kedaulatan negara dalam mengontrol ruang publik. Media sosial yang awalnya dipuja sebagai simbol kebebasan berekspresi, kini berubah menjadi arena kelindan yang rumit antara pengguna, platform, dan negara selaku regulator.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Rilis

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Akademisi UGM Ungkap Fenomena Buzzer dan Ekonomi Atensi Picu Perubahan Ekosistem Komunikasi Digital

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!