Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 21 APRIL 2026 • 19:00 WIB

Dikukuhkan Jadi Guru Besar Hari Ini, Dekan Faperta UGM Prof. Jaka Widada: "Stop Sekadar Beri Kimia, Saatnya 'Beri Makan' Kehidupan Tanah"

Dikukuhkan Jadi Guru Besar Hari Ini, Dekan Faperta UGM Prof. Jaka Widada: Stop Sekadar Beri Kimia, Saatnya Beri Makan Kehidupan TanahPotret Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Mikrobiologi Terapan. (Istimewa)

JOGJA - Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Mikrobiologi Terapan di Balai Senat UGM, Selasa (21/4). Dalam pidatonya, ia membawa pesan mendesak tentang ancaman "kepunahan mikroba" (microbiome extinction) yang mengancam ketahanan pangan dunia.

Prof. Jaka menyoroti bagaimana praktik pertanian intensif selama ini terlalu terpaku pada hasil fisik tanaman, seperti kecepatan tumbuh dan besarnya bulir, namun abai terhadap ekosistem di bawah tanah. Padahal, tanah yang sehat adalah kunci kesehatan manusia.

"Kita harus beralih dari sekadar memberi makan tanaman dengan bahan kimia menjadi ‘memberi makan’ kehidupan dalam tanah. Sebab, hanya dari tanah yang sehatlah akan lahir pangan yang kuat, dan dari pangan yang kuatlah akan lahir manusia yang sehat," ujar Jaka Widada.

Mekanisme 'Cry for Help' Tanaman

Jaka menjelaskan fenomena unik yang disebut mekanisme "Cry for Help". Saat tanaman mengalami cekaman kekeringan atau serangan hama, mereka secara cerdas meminta bantuan kepada mikroba di sekitarnya.

Namun, menurutnya, kemampuan alami ini terancam hilang akibat penggunaan pupuk sintetis dan herbisida yang berlebihan. Jaka memperingatkan bahwa menyelamatkan mikrobioma tanah bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat mutlak untuk menyelamatkan peradaban.

"Tanaman secara aktif mengekskresikan hingga 30 persen hasil fotosintesisnya sebagai eksudat akar. Cairan kaya gula dan asam organik ini berfungsi sebagai sinyal kimiawi di zona rizosfer," ungkapnya.

Baca juga: Jangan Asal Seduh, Pakar UGM Ungkap Kunci Dapatkan Manfaat Kesehatan Kopi

Sebagai solusi, Jaka menawarkan konsep Holobiont yakni sebuah cara pandang melihat tanaman dan mikrobanya sebagai satu kesatuan unit biologis. Ia membayangkan masa depan di mana pertanian dikelola dengan data genomik presisi dan bantuan algoritma cerdas (AI).

"Kita sedang bergerak menuju era di mana pupuk datang dari aktivitas biologis yang diaktifkan kembali melalui pemuliaan berbasis holobiont," jelas Jaka.

Ia juga mengatakan bahwa intervensi teknologi tinggi justru bertujuan untuk menghidupkan kembali kearifan alam yang rusak akibat modernisasi yang kebablasan.

"Implementasi tersebut telah membuktikan bahwa teknologi tinggi melalui kecerdasan buatan dan rekayasa genomik membantu memulihkan kembali kecanggihan simbiosis purba yang sempat hilang akibat mekanisasi pertanian yang berlebihan," ujarnya.

Di akhir pidatonya, Prof. Jaka menawarkan lima pilar strategis sebagai peta jalan kebijakan, mulai dari revolusi pemuliaan berbasis holobiont hingga digitalisasi mikrobioma nasional. Namun, ia mengakui Indonesia masih menghadapi kendala besar dalam infrastruktur riset multi-omik dan kapasitas pengolahan big data.

Baca juga: Wacana Akses Udara Militer AS di Indonesia: Peluang Penguatan atau Ancaman Kedaulatan? Begini Kata Pakar UGM

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dikukuhkan Jadi Guru Besar Hari Ini, Dekan Faperta UGM Prof. Jaka Widada: "Stop Sekadar Beri Kimia, Saatnya 'Beri Makan' Kehidupan Tanah"

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!