Senin, 28 JULI 2025 • 19:35 WIB

Dibuka 30 Juli, Inilah Rangkaian Acara Unggulan Festival Sastra Yogyakarta 2025 di Embung Giwangan

Author

Konferensi pers Festival Sastra Yogyakarta 2025, pada Senin (28/7/2025). (Istimewa)

JOGJA - Festival Sastra Yogyakarta (FSY) kembali digelar tahun ini sebagai perayaan literasi tahunan yang menegaskan pentingnya kerja kolaboratif dalam dunia kesastraan. Mengusung tema “Rampak", yang bermakna serempak, setara, dan harmonis. FSY 2025 akan berlangsung pada 30 Juli hingga 4 Agustus di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan. Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian pra-event Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Rakernas JKPI) XI.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Yetti Martanti, menyampaikan bahwa FSY 2025 hadir dengan pendekatan yang inklusif, interaktif, dan eksperimentatif.

Festival ini menghadirkan agenda-agenda seperti Pasar Sastra, Sayembara Puisi, Susur Galur, Panggung Teras, serta acara pembukaan dan penutupan yang dirancang sebagai peristiwa seni lintas medium,” ujarnya, dalam jumpa pers, pada Senin (28/7/2025).

Baca juga: Penumpukan Sampah Jadi Penyebab Tren Kenaikan Kasus Leptospirosis di Kota Yogya, Begini Respon Walikota Hasto

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2021, FSY selalu mengangkat tema yang merefleksikan dinamika sastra Indonesia. Dimulai dari Musikal Hanacaraka (2021), Mulih (2022), Sila (2023), Siyaga (2024), dan tahun ini Rampak yang menekankan pentingnya bergerak bersama sebagai komunitas. 'Rampak' menjadi simbol dari gerak komunitas sastra yang tidak lagi soliter, tetapi berjalan bersama.

"Di tengah kompleksitas kehidupan pascapandemi dan krisis multidimensi, pendekatan kolaboratif menjadi kunci keberlanjutan literasi yang berpihak pada kemanusiaan,” ujar Yetti.

Harapan Pemkot Yogyakarta

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan bahwa FSY dan Rakernas JKPI diharapkan dapat memberikan kontribusi produktif bagi masyarakat, khususnya dalam sektor budaya dan ekonomi kreatif. Ia menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai kekuatan produktif.

Kalau nilai luhur budaya dan pusaka diimplementasikan, maka harus produktif. Inovasi budaya tidak boleh berhenti pada pelestarian semata, tapi juga harus bisa menyejahterakan,” ujar Hasto.

Menurut Hasto, Embung Giwangan sebagai titik penting untuk mengembangkan destinasi wisata baru berbasis budaya.

Ini menjadi outlet baru untuk mengkais rezeki melalui peristiwa budaya. Harapan kami ini jadi best practice untuk membangun kesejahteraan masyarakat lewat budaya,” tuturnya.

Hasto juga mengusulkan ide ambisius seperti pembangunan Taman Kerajaan Nusantara sebagai wujud konkret pelestarian budaya yang kontekstual dan relevan bagi generasi muda.

Kalau Taman Mini bisa memuat rumah adat, kenapa kita tidak bisa membuat kawasan replika kerajaan Nusantara? Itu tinggalan sejarah yang bisa diwariskan ke cucu-cucu kita,” jelasnya.

Diketahui, festival tahun ini melibatkan berbagai tokoh sastra dan komunitas, antara lain Ramayda Akmal (sastrawan dan akademisi UGM), Fairuzul Mumtaz (Ketua Komunitas Suku Sastra), dan Paksi Raras Alit (Direktur Festival Kebudayaan Yogyakarta). Nama-nama besar seperti Saut Situmorang, Fahruddin Faiz, Mahfud Ikhwan, Dewi Lestari, hingga musisi Iksan Skuter juga turut meramaikan panggung FSY 2025.

Oleh karena itu, dengan semangat “Rampak”, FSY 2025 dirancang sebagai festival yang ramah komunitas dan lingkungan, berakar pada semangat literasi khas Yogyakarta yakni konsisten, kolaboratif, dan bernapas panjang.

Baca juga: Sambut HUT RI-80, Alasan Pemkot Yogya Pilih Tiga Sungai Ini Untuk dinormalisasikan

Agenda Utama FSY 2025:

1. Pasar Sastra

Waktu pelaksanaan : 30 Juli – 4 Agustus 2025 bertempat Grha Budaya TBEG sekitar 09.00 – 21.00 WIB. Bekerja sama dengan IKAPI DIY, menghadirkan ribuan judul buku, panggung diskusi harian, dan pameran komunitas

2. Sayembara Puisi FSY 2025

Pengumuman: 2 Agustus 2025
Sebanyak 4.395 puisi dikirimkan oleh 1.465 peserta dari seluruh Indonesia. Dewan juri: Indrian Koto, Yona Primadesi, dan Komang Ira Puspitaningsih.

3. Susur Galur (Seri Diskusi)
Waktu pelaksanaan : 2 – 4 Agustus 2025 bertempat di Grha Budaya TBEG. Menggali jejak komunitas sastra Yogyakarta dalam enam sesi diskusi tematik.

4. Panggung Teras (Ruang Komunitas)

Waktu pelaksanaan : 2 – 4 Agustus 2025 bertempat Teras Grha Budaya, sekitar 16.00 – 18.30 WIB. Ruang ekspresi bagi komunitas, termasuk acara harian Puisi Surup (poetry jamming).

5. Panggung Pembukaan

Waktu pelaksanaan : 2 Agustus 2025 sekitar 19.00 WIB, berlangsung di Grha Budaya TBEG
Pertunjukan lintas medium yang menyatukan puisi, musik, Macapat, dan visual. Dimeriahkan oleh Melankolia dan Iksan Skuter.

Reservasi kursi melalui: 
bit.ly/ReservasiPembukaanFSY2025

6. Panggung Penutupan
Waktu pelaksanaan : 4 Agustus 2025 sekitar 19.00 WIB bertempat di Amphitheater TBEG. Menampilkan Dewi Lestari dan seniman lintas bidang lainnya.

Dengan melibatkan tokoh-tokoh diantaranya Saut Situmorang, Fahruddin Faiz, Mahfud Ikhwan, Dewi Lestari, Ramayda Akmal, Iksan Skuter, The Kick, dan Jawara Kompetisi Bahasa dan Sastra.

Reservasi kursi melalui: 
bit.ly/ReservasiPenutupanFSY2025

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU