Nihil Gas Alam, Pemkab Sleman Resmi Tutup Penelitian Fenomena Api Seyegan, Kini Jadi Penyelidikan Polisi
JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman secara resmi menutup kasus fenomena kemunculan api misterius di sebuah rumah di Kapanewon Seyegan, Sleman. Keputusan ini diambil setelah tim gabungan dari berbagai instansi akademis dan kedinasan merampungkan penelitian intensif dan menyimpulkan bahwa fenomena alam tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan keberadaan gas alam.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah meluangkan energi untuk meneliti fenomena yang sempat menghebohkan warga ini.
"Kami apresiasi terhadap semua yang terlibat, terutama akademisi dari UGM, UPN, dan juga dari BRIN, dari pemerintah kemudian BPTKG, dan juga dari tim gegana, luar biasa dan hasil dari apa yang disampaikan di ruang pertemuan tadi adalah intinya bahwa dari fenomena api yang muncul di Seyegan ini, dari hasil penelitian semua yang disampaikan tadi tidak ada hubungannya dengan api yang muncul," ujarnya kepada wartawan saat memberikan keterangannya di Kantor Pemkab Sleman, Senin (16/5/2026).
Bambang menegaskan bahwa berdasarkan hasil kajian ilmiah menyeluruh, wilayah tersebut dipastikan bersih dari kandungan gas alam yang dapat memicu kebakaran. Fenomena geologis maupun biologis yang sebelumnya diduga menjadi penyebab, kini resmi dipatahkan oleh para ahli.
"Fenomena alam itu tidak menimbulkan api yang muncul disitu. Sehingga tadi kita sampaikan bahwa untuk selanjutnya, (mengenai) apa toh penyebabnya, ini kita sampaikan dari aparat kepolisian, reskrim untuk penyelidikan lebih lanjut, apa toh penyebabnya. Jadi semuanya menyimpulkan yang ada di sana, tidak ada hubungannya dengan api yang muncul, gas alam yang muncul di rumah Seyegan," ungkapnya.
Menurutnya, tim peneliti mengonfirmasi bahwa konsentrasi gas di lokasi tersebut berada jauh di bawah ambang batas berbahaya untuk memicu terjadinya pembakaran spontan.
"Kandungan gasnya baik metana mulai dari hidrogen, gas phosphine (fosfin), maupun gas rawa dari masing-masing ini tadi, itu tidak bisa, atau di bawah ambang batas untuk bisa menimbulkan api. Kira-kira itu, sehingga penelitian ini dari beliau-beliau sudah cukup dan memberikan rilisnya kepada kami," jelas Bambang.
Indikasi Dugaan Kesengajaan
Dalam membedah fenomena ini, tim ahli tidak main-main. Mereka menerjunkan peralatan mutakhir berskala laboratorium dan lapangan. Namun, hasil nihil terkait gas alam justru membuka babak baru berupa indikasi faktor kesengajaan atau sabotase.
"Untuk masing-masing dari peneliti menggunakannya alat, ada yang menggunakan geomagnetic, geothermal, kemudian dengan drone, kemudian juga dengan geolistrik juga. Masing-masing sudah menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung munculnya api itu dengan adanya gas alam yang ada di sana. Untuk penelitian terkait dengan fenomena seyegan ini sudah selesai hari ini," kata Bambang.
Namun, mengenai kemungkinan adanya faktor kesengajaan atau tindakan yang disengaja oleh oknum tertentu, BPBD Sleman memilih menyerahkan sepenuhnya pembuktian tersebut kepada aparat penegak hukum.
"Nanti itu dari pihak kepolisian yang akan membuktikan. Kita tidak bisa menyampaikan hal itu," tegasnya.
Disebutnya, latar belakang turun tangannya Satreskrim Polresta Sleman dalam kasus ini murni didasari atas belum ditemukannya penyebab pasti di luar faktor alamiah.
"Latar belakangnya dari kepolisian, karena belum menemukan penyebabnya itu apa. Karena tidak ada hubungannya dengan gas alam di sana, maka nanti ini tugasnya beliau ini, satreskrim dengan timnya yang akan mencari penyebab munculnya api," ujar Bambang.
Ia menyebut, penyerahan berkas dan hasil penelitian ilmiah ini nantinya akan dijadikan landasan hukum bagi kepolisian untuk mengungkap apakah ada unsur pidana, teror, atau motif lain di balik kejadian ini.
"Iya, untuk mengetahui apa itu penyebab sebetulnya fenomena apakah rumah api, ada apa, teror api atau apa, tapi pas nya seperti apa nanti kita juga tahunya nanti dari rekan kepolisian yang menyampaikan hasil penyelidikannya dengan bukti-bukti yang dari akademisi tadi itu, sebagai bukti pendukung," jelas Bambang.
Sementara berdasarkan data akumulatif yang dihimpun BPBD Sleman, teror api misterius ini telah berlangsung selama hampir satu bulan dan terjadi ratusan kali sebelum akhirnya mereda dalam dua hari terakhir.
"Munculnya api ini sejak tanggal 23 Mei ya. Kemudian kalau hari ini berarti sudah 22 hari dan sebanyak 126 kali kejadian. Dan untuk dua hari terakhir ini belum ada lagi. Terakhir adalah Sabtu malam ya, tidak ada sama sekali. Malam Jumat kan ada yasinan di sana. Dan kemudian habis itu malam Sabtunya sekali, itu yang terakhir," beber Bambang.
Akibat rentetan kebakaran misterius tersebut, pemilik rumah mengalami kerugian material yang cukup signifikan berupa kerusakan perabotan rumah tangga, meski angka pastinya belum dihitung secara resmi oleh pemerintah.
"Kalau estimasi kerugian dari kebakaran di Seyegan ini, BPBD belum menginventarisir secara keseluruhan, hanya waktu itu kami menanyakan ya, kira-kira habis kerugianmu berapa mbak? Kira-kira 45 juta, kira-kiralah. Ini sofanya harganya berapa, lemari nya berapa, pakaiannya ada berapa," ungkapnya.
Untuk mendukung proses penyelidikan lebih lanjut, BPBD Sleman juga siap menyerahkan rekaman dari sejumlah kamera pengawas (CCTV) yang sebelumnya dipasang di area rumah tersebut. Pada awalnya, CCTV ini dipasang untuk fungsi keamanan aset dan pengawasan lingkungan mengingat banyaknya orang asing yang keluar masuk rumah korban.
"Rekaman CCTV kami, itu yang digunakan yang pertama adalah untuk melihat siapa tamu yang hadir di sana. Karena tamunya banyak. Yang kedua, rumahnya mbak Fia ini kan bebas, dimasukin siapa saja, ada barang-barang aset yang berharga di sana, ada lemari es, siapa tahu nanti ada yang masuk lemari es, ada tabung gas melon itu berapa, kita ketahui kalau CCTV-nya dilihat kan bisa. Kemudian, kemarin saya sampaikan juga, bisa sebagai bukti pendukung. Bila nanti dibuka CCTV-nya akan kita siapkan," imbuh Bambang.
Terkait apakah ada temuan mencurigakan yang tertangkap kamera pengawas dan mendorong keterlibatan polisi, Bambang menyerahkan interpretasi bukti tersebut kepada tim penyidik.
"Nanti hasilnya dari kepolisian. Kira-kira siapa yang lewat ini, juga kan mungkin yang lewat bawa api, siapa tahu? Nanti dari kepolisian akan menjawab setelah penyelidikan selesai," tegasnya lagi.
Kendati demikian, penutupan penyelidikan ilmiah disebutkan Bambang bahwa keterlibatan puluhan pakar tingkat tinggi membuktikan bahwa Pemkab telah melakukan upaya maksimal secara saintifik sebelum akhirnya beralih ke jalur hukum pidana.
"Jadi memang karena dari akademisi sudah, para ahli semua, ditanyakan ke teman-teman dari rekan UGM, yang diterjunkan profesor ada 9, dari UPN profesornya 2, belum doktornya itu tak terhitung, itu temuannya sama, tidak ada hubungan langsung adanya gas alam. Inilah yang menyebabkan bupati yo bingung, wis polres wae yang meneliti beneran. Kita laporkan ke polresta terkait dengan apa yang terjadi. Gantian penyelidikannya," pungkas Bambang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung