Sabtu, 13 JUNI 2026 • 17:35 WIB

Buntut 97 SPPG di DIY Tutup, Siswa SMP Stella Duce 2 Jogja Kini Bawa Bekal dan Jajan di Kantin

Author

Salah satu program MBG di SD Kabupaten Sleman. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Buntut dari penutupan paksa 97 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akibat masalah aliran dana turut berdampak pada jalur distribusi makanan ke sekolah-sekolah. Salah satu sekolah yang terdampak dan sudah beberapa hari tidak mendapatkan distribusi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.

Kepala Sekolah SMP Stella Duce 2 Yogyakarta, R. V. Banu Hastha Kunjana, mengungkapkan bahwa pihak sekolah pertama kali menerima program MBG ini pada Mei 2025. Sayangnya, konsistensi distribusi tersebut harus terputus menjelang akhir bulan lalu.

"Distribusi menu makanan bergizi dari SPPG tersebut mulai berhenti diterima pada sehari sebelum Hari Raya Iduladha 2026. Terakhir kami menerima menu MBG pada 26 Mei 2026, itu sehari sebelum Idul Kurban," ujarnya, saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Banu, pihak sekolah sempat mendapatkan pemberitahuan resmi terkait alasan awal penghentian operasional distribusi dari mitra pemberi program tersebut.

"Pada 28 Mei 2026 kami mendapatkan informasi dari SPPG bahwa ada penghentian (distribusi MBG) karena pemeriksaan IPAL. Sejak hari itu sampai sekarang 11 Juni 2026, kami belum menerima lagi MBG dari SPPG itu," katanya.

Hingga saat ini, pihak sekolah mengaku masih berada dalam ketidakpastian mengenai kapan program pemenuhan gizi nasional ini akan kembali bergulir di tempat mereka.

"Sampai sekarang belum menerima informasi pasti terkait jadwal penyaluran kembali menu MBG dari SPPG tersebut," beber Banu.

Meski begitu, Banu memastikan bahwa kondisi di lapangan tetap kondusif. Penghentian distribusi program MBG itu diklaim tidak sampai mengganggu aktivitas pembelajaran di sekolah.

"Karena saat ini SMP Stella Duce 2 Yogyakarta sedang dalam masa ujian semesteran. Para murid pun tetap membawa bekal atau jajan di kantin selama pendistribusian menu program MBG diliburkan," jelasnya.

Baca juga: Gara - Gara Anggaran Mandek, 97 SPPG di DIY Setop Beroperasi Tanpa Kabar, Sekda DIY Pertanyakan Aliran Dana 6 Juta Sehari

Mengingat kalender akademik yang sudah mendekati akhir tahun ajaran, kata dia, pihak sekolah menilai jeda kekosongan program ini tidak akan menjadi persoalan besar bagi kesiapan belajar siswa.

"Melihat jadwal yang ada, pada Minggu depan anak-anak sudah menerima rapor. Jadi kalau sampai akhir tahun pembelajaran tidak ada MBG, saya kira tidak akan menganggu. Mungkin di tahun pembelajaran berikutnya, program MBG itu bisa dibagikan lagi," imbuh Banu.

Selama setahun berjalan, lanjut Banu, program MBG di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta menyasar sebanyak 293 siswa. Banu memberikan catatan bahwa secara umum kualitas dan komposisi gizi makanan yang dikirim oleh SPPG Mantrijeron sudah sangat baik, meskipun ada sedikit evaluasi dari segi rasa.

"Kalau menu MBG yang diterima SMP Stella Duce 2 Jogja selama ini dalam hal komposisi kandungan gizi terpantau sudah baik. Menu makanan bergizi yang diterima para siswa umumnya terdiri atas karbohidrat seperti nasi dan ubi, sayuran, serta lauk pauk meliputi tempe, ayam, maupun daging," ungkapnya.

Terkait skema pembagian yang berjalan selama ini, disebutnya sekolah menerima pasokan makanan secara rutin setiap hari sekolah.

"Kami menerima lima kali dalam seminggu. Biasanya datang pukul 8.30 WIB dan dibagikan ke siswa saat jam istirahat yakni pada pukul 9.05 sampai 9.20 WIB. Dari segi kualitas sejauh ini tidak ada masalah. Hanya secara rasa mungkin belum memenuhi selera seluruh anak. Total ada 293 siswa yang menerima MBG," pungkas Banu.

Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengungkapkan adanya 97 SPPG yang menghentikan pelayanannya. Menurut hasil rapat koordinasi wilayah, kendala utama yang dihadapi adalah belum cairnya dana operasional melalui skema virtual account (VA) dari pemerintah pusat, serta belum terpenuhinya sejumlah persyaratan administratif oleh pihak pengelola.

"Ya kemarin habis dirapatkan jebulnya banyak, 97 DIY. Ya banyak, karena virtual account-nya belum, itu kan pembayaran ya, jadi belum tertransfer, persyaratannya juga belum banyak terpenuhi, seperti itu," ujar Ni Made, Sabtu (13/6/2026).

Baca juga: 9 SPPG di Kota Jogja Sempat Ditutup, Pemkot Sebut Hanya 1 yang Kini Aktif Lagi

Dari jumlah yang ditutup itu, wilayah Kabupaten Sleman mendominasi dengan 36 SPPG (37,1 persen), disusul Kabupaten Gunungkidul sebanyak 28 SPPG (28,9 persen).

Secara spesifik, 42 SPPG (43,3 persen) terhenti total murni karena dana VA yang belum ditransfer oleh pusat, di mana kasus ini terkonsentrasi di Gunungkidul (22 SPPG), Bantul (10 SPPG), dan Sleman (10 SPPG). Sementara 55 SPPG (56,7 persen) sisanya terhenti akibat status suspend terkait pemenuhan kelayakan fasilitas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU