JOGJA - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkat bicara terkait dugaan pemalsuan riset berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam sebuah konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark. Kasus yang viral di media sosial ini diduga menyeret dua nama alumni dari kampus tersebut.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof. Nur Hidayanto PP., Ph.D., menegaskan bahwa pihak universitas saat ini tengah melakukan penelusuran mendalam guna mengklarifikasi kebenaran informasi yang beredar luas tersebut.
"Nah, atas dua nama itu kami tadi melakukan penelusuran memang benar sebagai alumni, tapi informasinya itu kan masih kami dalami dulu, kami klarifikasi ke yang bersangkutan (ybs)," ujarnya, saat dikonfirmasi belum lama ini.
Berdasarkan narasi yang beredar di jagat maya, dua nama yang dikaitkan dalam dugaan manipulasi ini adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini. Nur Hidayanto membeberkan bahwa pihak kampus baru berhasil menghubungi salah satu dari mereka.
"Nah yang baru klarifikasi itu Prihantini," katanya.
Dari hasil komunikasi awal, Prihantini telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak UNY atas kegaduhan yang terjadi. Ia menyebut ada kesalahpahaman yang terlanjur menggelinding liar di media sosial sebelum pihak universitas sempat mendapatkan konfirmasi utuh.
"Kami menyatakan telah terjadi miskonsensi di beberapa pihak dan menyebar di media sosial dengan cepat tanpa adanya konfirmasi di pihak kami terlebih dahulu. Yang beredar di sosial media tidak semuanya benar," ucap Hidayanto.
Belum Ada Laporan Resmi
Pihak UNY mengaku sejauh ini belum menerima laporan formal mengenai dugaan pelanggaran akademik tersebut. Penyelidikan yang dilakukan saat ini murni bergerak berdasarkan informasi yang ramai di ranah publik. Tim khusus pun telah diterjunkan untuk menyusun klarifikasi resmi.
"Kami sedang menyusun klarifikasi penjelasan dari sosial media itu. Karena kami juga masih memproses, istilahnya belum ada laporan resmi ke kami juga, yang ada kan baru sosial media. Kami baru menelusuri dengan tim," jelasnya.
Namun, menurutnya berdasarkan pengecekan data internal, nama Rifaldy Fajar dan Prihantini memang terdaftar dalam database kelulusan UNY sebagai alumni program studi S1 Matematika yang lulus sekitar satu dekade lalu. Namun, pihak kampus tidak ingin gegabah dan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah untuk memastikan kecocokan identitas.
"Dua nama itu memang ada di database kami, tapi kami tidak tahu namanya itu sama atau tidak kan kami tidak tahu. Mereka itu alumni 18 dan 17. Tapi kan sekali lagi, kami perlu cek, benar niki dudu wonge (ini benar orangnya atau bukan)," kata Hidayanto.
"Itu yang Rivaldi (sampai sekarang) belum klarifikasi," sambungnya.
Kampus Siapkan Sanksi
Terkait potensi sanksi yang akan dijatuhkan jika dugaan pemalsuan riset ini terbukti benar, Nur Hidayanto menjelaskan bahwa status terduga pelaku sebagai alumni membuat penanganannya berbeda dengan mahasiswa aktif. Kasus ini nantinya akan diserahkan kepada komite khusus.
"Di kami di aturan akademik itu memang ada tingkatan-tingkatan pelanggaran. Setelah alumni kan beda kasusnya, maka kami akan bawa ke komite etik kalau itu benar-benar pelanggarannya," tegasnya.
Kendati demikian, pihak UNY berkomitmen untuk menyelesaikan penelusuran ini secara objektif dan berhati-hati agar tidak salah dalam mengambil keputusan normatif.
"Sekali lagi kami masih klarifikasi, kami masih konfirmasi terkait dengan informasi yang beredar, namanya sosmed kan kadang seperti itu ya, jadi kami hati-hati supaya tidak ada masalah di kemudian hari, supaya kami tidak mendzolimi juga," pungkasnya.
Dugaan Manipulasi Demi 'Travel Grant'
Diketahui sebelumnya, kasus ini pertama kali mencuat setelah akun X (Twitter) @mandharabrasika membagikan utas dugaan manipulasi riset dalam konferensi internasional bidang pneumonia di Denmark. Akun tersebut menuding adanya oknum peneliti asal Indonesia yang nekat memalsukan identitas fisik maupun dokumen saat sesi presentasi.
Bukan sekadar ajang pamer riset, manipulasi tersebut diduga kuat dilakukan demi keuntungan finansial sepihak.
"Dengan cara ini, pelaku mendapatkan travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri 'gratis'. Gratis, karena yang bayar mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia," tulis pengunggah dalam utas yang viral tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Via Telepon