Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 24 JULI 2025 • 19:41 WIB

Pakar UGM Sampaikan Kritik dan Solusi Rencana Konversi Lahan Karet Jadi Sawit : “Kebijakan Sesaat, Berisiko Tinggi”

Pakar UGM Sampaikan Kritik dan Solusi Rencana Konversi Lahan Karet Jadi Sawit : “Kebijakan Sesaat, Berisiko Tinggi”Pohon sawit. (Istimewa)

JOGJA - Rencana Kementerian Pertanian untuk mengonversi jutaan hektare lahan karet menjadi perkebunan kelapa sawit mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., menilai kebijakan tersebut sarat risiko dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutan jangka panjang.

Menurut Eka, kebijakan ini berpotensi menimbulkan masalah dari sisi ekonomi, teknis, maupun lingkungan. Ia menyebut pendekatan monokultur sawit dalam skala besar sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan serangan hama penyakit.

Budidaya kelapa sawit secara monokultur dalam lanskap yang sangat luas memiliki risiko tinggi, terutama jika terjadi ledakan hama penyakit,” ujarnya, Kamis (24/7/2025).

Secara ekonomi, Eka mengkritik ketergantungan pada satu komoditas seperti kelapa sawit yang dianggap rawan terhadap volatilitas pasar. Ia menegaskan bahwa diversifikasi seharusnya menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pertanian nasional.

"Konversi komoditas ketika harganya jatuh bukan pilihan bijak karena situasi semacam ini sudah berulang kali terjadi, dan kita selalu mengulang kesalahan yang sama,” tegasnya.

Baca juga: Pakar UGM Sebut Cuci Beras Tidak Efektif Hilangkan Zat Berbahaya Pada Beras Oplosan

Eka juga menilai langkah konversi ini tidak rasional dari sudut pandang agronomi. Ia justru merekomendasikan revitalisasi kebun karet melalui program replanting dan penerapan pola kebun campuran agar petani dapat beradaptasi lebih baik terhadap fluktuasi harga komoditas.

Kebijakan yang hanya mengejar tren harga sesaat justru menciptakan siklus ketergantungan yang merugikan petani. Dengan pola kebun campuran, petani memiliki ruang adaptasi yang lebih baik terhadap gejolak pasar,” imbuhnya.

Terkait alasan konversi yang dikaitkan dengan hilirisasi dan ketahanan energi, Eka menyebut hal itu tidak relevan. Menurutnya, peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) untuk mendukung program biosolar dapat dicapai tanpa perlu ekspansi lahan.

Peningkatan produktivitas dari kebun sawit eksisting lebih rasional dibanding membuka lahan baru, apalagi dengan mengganti karet,” jelasnya.

Kendati demikian, Eka mencontohkan, jika produktivitas CPO ditingkatkan dari 3,5 ton menjadi 7 ton per hektare, maka produksi nasional bisa meningkat dua kali lipat tanpa konversi lahan. Ia juga mempertanyakan mengapa bukan industri primer karet yang dihilirisasi untuk menopang harga.

Optimalisasi hasil dari lahan yang sudah ada menunjukkan pilihan kebijakan yang cerdas dan efisien secara sumber daya,” katanya.

Sementara dari sisi lingkungan, Eka memperingatkan bahwa konversi besar-besaran akan merusak biodiversitas dan menurunkan kualitas sumber daya lahan. Monokultur sawit, menurutnya, tidak sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan.

Diversifikasi komoditas dan pengelolaan terintegrasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pakar UGM Sampaikan Kritik dan Solusi Rencana Konversi Lahan Karet Jadi Sawit : “Kebijakan Sesaat, Berisiko Tinggi”

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!