Jumat, 10 JULI 2026 • 14:25 WIB

Sentil Krisis Lingkungan, Dosen UGM Sebut Manusia Modern Perlu Belajar "Santun" pada Masyarakat Adat

Author

Sebuah aktivitas di kawasan Hutan (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Indonesia saat ini masih dibayangi oleh berbagai persoalan lingkungan yang serius. Mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara masif, hingga rentetan bencana banjir dan tanah longsor yang terus berulang di berbagai wilayah.

Melihat fenomena ini, Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arqom Kuswanjono, S.Ag., M.A., menegaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai fenomena alam semata. Menurutnya, kondisi ini sudah menjelma menjadi krisis moral manusia.

Arqom membedakan dengan jelas antara mekanisme murni alam dengan apa yang ia sebut sebagai "bencana moral". Gempa bumi atau gunung meletus adalah proses alami bumi. Namun, ketika kerusakan ekosistem terjadi akibat ulah tangan manusia, maka label yang tepat adalah bencana moral.

"Bencana moral merupakan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Banjir, longsor, dan berbagai kerusakan lingkungan memang ada pengaruh faktor alam, tapi di dalamnya juga terdapat persoalan moralitas. Manusia, karena keserakahannya, terus merusak alam," ujar Arqom saat ditemui di Fakultas Filsafat UGM, Jumat (10/7/2026).

Baca juga: Janda di Sleman yang Hidupi Keluarga Lewat Jualan Air Omset Rp 1,5 Juta Per Bulan, Kini Anaknya Masuk UGM Tanpa Biaya

Dosen Departemen Filsafat Agama ini menilai, alam sebenarnya memiliki kemampuan (hukum alam) untuk mengelola dan menyembuhkan dirinya sendiri. Namun, keseimbangan itu rusak ketika intervensi manusia masuk secara agresif demi mengejar keuntungan ekonomi sesaat. Menukil pernyataan tokoh dunia Mahatma Gandhi, Arqom mengingatkan dampak fatal jika ego manusia tidak diredam.

"Alam semesta cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti adanya salah kaprah dalam perspektif teologi masyarakat. Banyak orang merasa memiliki kedudukan istimewa di bumi, lalu menjadikannya pembenaran untuk mendominasi alam. Padahal dalam ajaran Islam, misalnya, konsep manusia sebagai khalifah (wakil Tuhan) justru memikul tanggung jawab besar untuk merawat ciptaan-Nya.

"Menguasai alam bukan berarti kemudian manusia punya kebebasan untuk merusak. Manusia diberi kuasa atas burung, hutan, dan alam semesta bukan untuk merusaknya, tetapi untuk menjaganya," jelas Arqom.

Ada hal ironis yang disorot oleh Arqom terkait kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Alih-alih melahirkan solusi hijau, kecanggihan teknologi kerap dijadikan tameng atas nama pembangunan untuk melegitimasi pembabatan hutan dan polusi industri.

Melihat paradoks ini, ia menyarankan agar manusia modern menurunkan egonya dan mau belajar dari kearifan lokal masyarakat pedalaman yang terbukti lebih harmonis dengan ekosistem.

"Kadang-kadang manusia harus belajar dari masyarakat pedalaman. Mereka lebih santun kepada alam. Yang perlu dipelajari bukan mitologinya, tetapi kesantunan mereka terhadap alam," tegasnya.

Baca juga: UGM Kukuhkan 901 Insinyur Baru, Salah Satu Pidatonya Soroti Keberlangsungan Hutan

Oleh karena itu, Arqom mendesak adanya perubahan radikal dalam paradigma berpikir masyarakat global. Pola pikir bahwa bumi adalah "warisan" yang bebas dihabiskan harus segera dikubur.

"Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita, bukan warisan yang boleh kita habiskan. Ketika alam rusak, bukan hanya alam yang rusak, tapi manusia sendiri juga akan rusak," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU