Selasa, 07 JULI 2026 • 11:35 WIB

Dukung Pengembangan Biodesel 50, Guru Besar UGM Beri Catatan Kritis Ini

Author

Biodesel B50 (Istimewa)

JOGJA - Rencana pemerintah untuk meningkatkan penggunaan biodiesel menjadi 50 persen atau B50 terus mendapat sorotan. Selain sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional, program ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pakar energi terbarukan sekaligus Guru Besar FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. rer. nat. Karna Wijaya, M.Eng., menyambut positif kebijakan tersebut. Menurutnya, B50 memiliki potensi besar tidak hanya untuk pemenuhan energi, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi di sektor pertanian, perkebunan, hingga industri manufaktur katalis.

Namun, Karna mengingatkan bahwa transisi menuju B50 bukanlah perkara mudah. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan ekosistem secara menyeluruh, bukan sekadar menaikkan persentase campuran.

"Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh besarnya persentase campuran biodiesel, melainkan juga oleh ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, teknologi produksi yang andal, standar mutu yang konsisten, kesiapan infrastruktur distribusi, aspek pembiayaan, serta kesesuaian bahan bakar dengan berbagai jenis mesin diesel," ujar Karna, Selasa (7/7/2026).

Baca juga: Dikukuhkan Jadi Guru Besar Biologi UGM, Prof Hendry Saragih Ungkap Potensi Industri Ayam Lokal

Selama ini, menurutnya produksi biodiesel di Indonesia masih sangat bergantung pada minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO). Meski pasokannya melimpah, Karna menekankan pentingnya diversifikasi bahan baku agar industri biodiesel lebih tangguh di masa depan.

Ia mendorong pemanfaatan sumber nabati non-pangan yang tidak berkompetisi dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, seperti minyak nyamplung, kemiri sunan, hingga limbah minyak jelantah.

"Pemanfaatan minyak jelantah, misalnya, tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah rumah tangga atau sektor jasa makanan menjadi produk bernilai tambah," jelasnya.

Dari sisi teknis, Karna menyoroti pentingnya efisiensi proses produksi. Saat ini, penelitian mulai mengarah pada penggunaan katalis heterogen seperti zeolit dan silica-alumina. Dibandingkan katalis homogen, katalis jenis ini lebih efisien karena mudah dipisahkan dari produk akhir dan meminimalkan limbah.

Disamping itu, Karna juga menekankan pentingnya pengujian yang ketat. Sebelum B50 diterapkan secara massal, ia mendesak perlunya pengujian performa mendalam pada berbagai jenis mesin, mulai dari kendaraan bermotor, alat berat, hingga pembangkit listrik.

"Pengujian bertujuan mengevaluasi konsumsi bahan bakar, performa mesin, karakteristik emisi, stabilitas operasional, kompatibilitas material, serta dampak penggunaan jangka panjang terhadap sistem pembakaran," imbuhnya.

Baca juga: Tembus UGM dengan "Screen Reader", Ini Cerita Angel Mengejar Mimpi Jadi Peneliti

Kendati demikian, Karna menegaskan bahwa B50 harus menjadi bagian dari pembangunan ekosistem energi nasional yang lebih besar. Ia mengajak pemerintah, akademisi, peneliti di BRIN, industri, hingga petani untuk berkolaborasi membangun rantai pasok yang tangguh.

"Melalui penguatan inovasi teknologi, pemanfaatan sumber daya domestik, dan kolaborasi lintas sektor, B50 harapannya menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan sistem energi Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berorientasi pada keberlanjutan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU